Vaksin COVID-19 Pfizer: Harus Disimpan di Suhu -70 Derajat Celcius

Renne R.A Kawilarang, BBC Indonesia
·Bacaan 3 menit

Pengumuman Pfizer bahwa vaksin virus corona mereka yang tengah diuji klinis mampu mencegah infeksi sampai 90%, merupakan berita gembira.

Vaksin yang diproduksi bersama perusahaan bioteknologi Jerman BioNTech, masih perlu diuji lebih lanjut dan para ilmuwan meminta untuk tidak terlalu optimistik.

Namun tugas besar yang paling menantang, begitu vaksin ini atau sembilan vaksin lain disepakati, adalah distribusi dan penyimpanannya.

Penyimpanan vaksin Pfizer yang paling menantang karena perlu disimpan pada suhu -70 derajat C.

Suhu seperti ini sama saja dengan suhu terendah di Antartika dan jauh lebih dingin dibandingkan dengan mesin pendingin apa pun.

Kondisi ini akan mempersulit distribusi vaksin, khususnya di daerah terpencil dan negara-negara berkembang.

Logistik dan pengiriman vaksin akan menjadi pekerjaan yang luar biasa berat.

`Operasi logistik raksasa`

Dalam pengumumannya, Pfizer mengakui adanya "tantangan terkait suhu sangat dingin untuk penyimpanan, distribusi vaksin serta persyaratan administrasinya".

Transportasi vaksin Pfizer dan BioNTech dari pabrik ke lengan pasien akan menjadi "operasi logistik raksasa", kata Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock kepada BBC.

Di Inggris sendiri, vaksin yang dikembangkan Universitas Oxford dan AstraZeneca telah sampai pada uji klinis.

Namun untuk distribusi, vaksin yang dikembangkan ini tidak memerlukan suhu super dingin dan karena itu tidak memerlukan prasarana tambahan.

Seperti apa distribusi vaksin?

vaksin
vaksin

Begitu disepakati, vaksin akan dikirim dari pabrik-pabrik.

Pengirimannya melalu udara dan darat dan perlu tempat penyimpanan sebelum diangkut ke pusat kesehatan termasuk klinik, apotek, rumah sakit dan tempat-tempat lain.

Penyimpanan sebelum disuntikkan ke orang yang menjadi tantangan besar karena sebagian besar pusat kesehatan tidak memiliki teknologi untuk menyimpan pasien pada waktu lama.

Sebelum pengumuman Pfizer, sejumlah perusahaan logistik besar mengumumkan komitmen untuk terlibat dalam jaringan distribusi dalam menangani pandemi.

"Kami telah memikirkan keperluan dan permintaan terkait vaksin dan uji coba, dan kami menyiapkan jaringan kami untuk mendukung operasi penyelamatan nyawa manusia," kata juru bicara perusahaan logistik UPS kepada BBC Mundo.

UPS, FedEx dan DHL, misalnya telah melakukan investasi jutaan dolar dalam membangun fasilitas baru di pusat distribusi mereka yang dirancang untuk menyimpan ribuan dosis vaksin yang telah disepakati.

Fasilitas itu dilengkapi dengan sensor termal serta mesin pendingin khusus yagn dapat menyimpan vaksin dengan suhu kurang dari -80 ° C.

Pfizer menyatakan mereka memiliki tas khusus, yang dilengkapi dengan perangkat es kering dan sensor GPS.

Kemasan yang disiapkan pada dasarnya dapat menyimpan paling banyak 5.000 dosis selama 10 hari, sepanjang tetap ditutup.

es kering
Es kering diperlukan untuk memastikan suhu rendah dalam menyimpan vaksin.

Es kering berisi karbon dioksida padat, penting untuk menjaga suhu pada titik rendah, menurut asosiasi Compressed Gas Association (CGA) Amerika Serikat.

Pandemi virus corona juga mempengaruhi produksi bahan dasar es kering seperti ethanol dan hydrogen, sehingga terjadi kekurangan.

Namun CGA berjanji untuk memenuhi kekurangan itu.

Tugas raksasa namun bukan tidak mungkin

UPS.
Perusahaan angkutan seperti UPS telah menyiapkan fasitas pendingin pada suhu sangat rendah.

Transpotasi dan logistik vaksin ini jauh lebih sulit untuk daerah-daerah terpencil di negara-negara berkembang seperti di Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Namun aliansi produsen vaksin menyatakan mereka pernah menghadapi tantangan sulit sebelumnya dan berhasil dilakukan.

"Tantangan dalam menyimpan vaksin-vaksin ini bisa diatasi oleh Republik Demokratik Kongo misalnya. Vaksin Ebola saat ini memerlukan tempat penyimpanan dengan suhu antara -70 derajat C dan -80 derajat C, dan dengan kondisi ini, negara ini dapat memvaksin 300.000 orang selama pandemi baru-baru ini di bagian timur negara itu," kata Covax, aliansi berbagai organisasi dan pemerintah yang dipusatkan pada distribusi vaksin dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO dan Unicef telah memasang tempat penyimpanan dingin di negara-negara yang tidak memiliki perlengkapan memadai

"Skala, kerumitan dan kapasitas dalam rantai penyaluran vaksin (yang akan terjadi) belum pernah terjadi sebelumnya," kata Professor Michael Bourlakis, dari Cranfield School of Business di Inggris.