Vaksin COVID-19 Picu Menstruasi Tak Beraturan? Ini Faktanya

·Bacaan 2 menit

VIVA – Masyarakat secara umum telah memahami efek samping vaksin COVID-19 mencakup demam, sakit kepala, hingga pegal dan linu selama beberapa hari ke depan. Sayangnya, efek samping lainnya pun kerap dirasakan meski jarang dituturkan oleh banyak pakar, salah satunya siklus menstruasi yang tak beraturan.

Menurut Dr Alexandra Alvergne di University of Oxford, ada hubungan yang masuk akal antara vaksin dan perubahan menstruasi. Secara teori, katanya, waktu ovulasi (ketika sel telur dilepaskan) dapat dipengaruhi oleh peradangan.

Ini bisa terjadi ketika orang sakit dan demam. Hal serupa pada vaksin juga menyebabkan respons peradangan dalam tubuh.

"Itu semua adalah bagian dari sistem kekebalan Anda yang mulai menghasilkan antibodi dan sel-sel lain yang melawan penyakit," terangnya, dikutip dari laman BBC.

Ada juga beberapa bukti dari penelitian sebelumnya orang dengan tanda-tanda peradangan akibat infeksi, memiliki periode menstruasi yang lebih menyakitkan. Hal itu diakibatkan oleh sistem kekebalan tubuh sendiri.

Senada, dr Victoria Male, seorang ahli imunologi reproduksi di Imperial College London, mengatakan beberapa wanita pasca-menopause, telah melaporkan kembali mengalami menstruasi. Jadi, dokter Male menduga ada reaksi fisik yang terjadi, di mana itu berkaitan dengan respons kekebalan tubuh.

Secara teori, lapisan rahim adalah bagian dari sistem kekebalan, meski sebenarnya ada sel-sel kekebalan di hampir setiap bagian tubuh. Sel-sel kekebalan berperan dalam membangun, memelihara, dan menghancurkan lapisan rahim, yang menebal untuk mempersiapkan kehamilan, dan kemudian luruh dalam bentuk menstruasi jika sel telur tidak dibuahi.

"Setelah vaksinasi, banyak sinyal kimia yang berpotensi mempengaruhi sel-sel kekebalan beredar ke seluruh tubuh. Ini bisa menyebabkan lapisan rahim luruh, dan bercak atau menstruasi lebih awal," jelas Dr Male.

Namun, ini tidak berarti ada kaitan dengan keguguran. Selama kehamilan, berbagai proses menjaga lapisan rahim, termasuk keberadaan plasenta, organ yang menghubungkan janin dengan suplai darah ibunya.

Dokter Male menegaskan, kini sudah ada banyak bukti dari wanita yang telah disuntik yang menunjukkan bahwa mereka tidak berisiko lebih tinggi mengalami keguguran.

"Ada banyak bukti bahwa vaksin tidak mempengaruhi kesuburan," kata Dr Male.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel