Vaksin Covid-19 tidak memengaruhi warna darah

·Bacaan 2 menit

Berbagai unggahan media sosial menyebarkan klaim bahwa vaksin Covid-19 berdampak buruk pada darah, dengan menggunakan sebuah foto dua kantong darah — di mana satu kantong berisi cairan berwarna merah yang lebih gelap daripada satu kantong lainnya — sebagai bukti. Klaim ini salah. Para pakar mengatakan perbedaan warna darah disebabkan oleh tingkat oksigenasi, dan bahwa vaksin tidak akan memengaruhi warna darah.

Klaim itu muncul di unggahan Facebook ini pada tanggal 18 September 2021.

Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 27 Desember 2021

Sebagian status unggahan itu berbunyi: "Rupanya kantong darah dari darah yang tidak divaksinasi vs. yang divaksinasi

"Yang sama sekali tidak mengejutkan saya mengetahui nanoteknologi vaksin covid mengubah ciptaan dewa menjadi ciptaan setan. Di sebelah kiri - darah 'tidak divaksinasi', di sebelah kanan - 'divaksinasi'.

"Tidak mengherankan, Palang Merah tidak mengumpulkan darah dari orang-orang yang 'divaksinasi'."

Foto dengan klaim serupa juga dibagikan di Facebook di sini dan di sini, serta di Instagram dan Twitter.

Foto yang sama juga dibagikan dengan klaim dalam bahasa Malaysia dan bahasa Inggris.

AFP sebelumnya telah membantah klaim bahwa Palang Merah Amerika tidak menerima donasi plasma konvalesen dari orang yang telah mendapat vaksin Covid-19 dan vaksin mengubah sel darah secara permanen.

Pernyataan bahwa vaksin memengaruhi warna darah juga tidak akurat.

"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan vaksinasi," kata Dr. PJ Utz, profesor imunologi dan reumatologi yang menjalankan sebuah laboratorium penelitian Universitas Stanford di Amerika Serikat, kepada AFP.

"Warna ditentukan oleh seberapa banyak oksigen dalam darah, dan itu adalah hal yang sangat bervariasi," katanya. "Jika Anda menderetkan 15 kantung darah, Anda akan melihat berbagai warna merah sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali dengan sampel darah itu."

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan berdasarkan teknologi vektor virus seperti AstraZeneca telah dikaitkan dengan kasus pembekuan darah, tetapi kejadian ini sangat langka.

"Jika ada pesan di luar sana, yaitu jika Anda harus memilih antara vaksinasi dan infeksi, Anda mengambil vaksinasi 100 persen setiap saat," kata Utz, yang juga menyebutkan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa terinfeksi Covid-19 meningkatkan kemungkinan mengembangkan autoantibodi yang dapat menyebabkan pembekuan darah.

Dan Milner, kepala petugas medis di American Society for Clinical Pathology, juga mengatakan bahwa variasi warna darah berasal dari tingkat oksigenasi, yang berubah berdasarkan "tingkat penggunaan jaringan yang berbeda, jika mereka (pasien) memiliki lebih banyak otot, lebih banyak lemak, apakah darah itu berasal dari lengan yang dominan atau tidak, dll."

Dia menjelaskan darah selalu diambil dari vena, yang membawa darah terdeoksigenasi kembali ke jantung, dan dimasukkan ke dalam kantong darah yang tertutup rapat. Inilah sebabnya mengapa darah dalam kantong donor cukup gelap, terutama jika dibandingkan dengan darah beroksigen merah cerah yang terlihat saat ada bagian tubuh yang terluka.

Gregory Poland, ahli virus dan vaksin dari Mayo Clinic di AS, melihat foto itu dan mengatakan unggahan tersebut berisi "informasi yang salah," sekaligus menambahkan bahwa vaksin tidak menyebabkan apa yang diklaim.

AFP telah membantah klaim-klaim menyesatkan terkait Covid-19 dalam bahasa Indonesia di sini dan bahasa Inggris di sini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel