Vaksin Dipastikan Tetap Efektif, Meski Ada Varian Baru Virus Corona

Tasya Paramitha, Isra Berlian
·Bacaan 3 menit

VIVA – Strain atau varian baru virus corona ditemukan di Inggris akhir-akhir ini dan diketahui memiliki memiliki daya sebar yang cepat. Varian baru virus corona ini ditemukan pertama kali di Inggris bagian selatan.

"Sebelumnya ada D641G yang di lapangan tidak terbukti penyebarannya lebih cepat. Demikian juga keparahan dan kematian. Bedanya dengan (varian baru virus corona) sekarang ini ternyata penyebarannya lebih cepat dan salah satu yang dipengaruhi varian ini adalah menyerang bagian reseptor binding domain (RBD)"," kata Menteri Ristek dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro dikutip dari virtual conference di channel YouTube BNPB, Kamis, 24 Desember 2020.

Meski penyebarannya terbilang cepat, namun belum ditemukan bukti bahwa varian ini dapat meningkatkan tingkat keparahan penyakit COVID-19 dan kematian. Namun, Bambang tetap meminta masyarakat untuk tetap waspada. Mengingat penyebarannya yang cepat dan dikhawatirkan jika menular ke orang tanpa gejala dapat membahayakan orang dengan komorbid dan orang lanjut usia.

"Jangan kita lihat dari segi penyakit saja, tapi juga orang yang kena. Meski itu OTG (orang tanpa gejala), dia tertular dan kalau varian itu yang dia didapatkan, maka dengan cepat sekali bisa menular ke orang lain," ucapnya.

"Kalau dengan R di atas satu, berarti satu anak muda tertular akan mudah menular ke satu orang lain dan menulari anak muda lain yang barangkali OTG. Tapi bisa menulari orang tua atau komorbid. Kita harus lihat bahaya di situ, penularan yang cepat," tambahnya.

Di sisi lain, Bambang juga menjawab kekhawatiran masyarakat tentang efektivitas dari vaksin COVID-19 yang baru saja dibeli Indonesia dan apakah dapat menanggulangi mutasi virus corona tersebut. Mengingat baru-baru ini varian baru virus corona tersebut dilaporkan telah ditemukan di Singapura yang mana dekat dengan Tanah Air.

"Meski varian dari Inggris menyerang reseptor binding domain yang sangat penting pengembangan atau efektivitas vaksin, tapi paling tidak, meskipun yang diserang RBD, tapi RBD enggak akan tergangu struktur atau antigenitasnya. Jadi vaksin tetap efektif meskipun ada varian baru," jelas Bambang.

Hal senada juga diungkapkan oleh Guru Besar Ilmu Mikrobiologi sekaligus Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof. Dr. Amin Subandrio, Ph.D, Sp.MK. Dia menyebut bahwa mutasi virus corona baru ini tidak mengganggu efektivitas dari vaksin corona yang dikembangkan di dunia.

"Sebelum ini, mutasi terjadi di protein S, tapi bukan di reseptor binding domain, bukan ujung sekali yang menempel pada bagian sel manusia. Pada mutasi yang baru ini, terjadi mutasi di RBD tapi banyak poin, belum sampai mengubah struktur maupun struktur antigen. Sehingga sejauh ini belum mengganggu kinerja vaksin," kata dia.

Di samping itu, Menristek Bambang menjelaskan bahwa meski mutasi sampai saat ini tidak mengganggu pengembangan vaksin, tetapi tetap harus melakukan surveilans, untuk mengetahui jika suatu saat terjadi mutasi baru dan karakter virusnya berubah, maka perlu dilakukan modifikasi.

"Meski mutasi sampai saat ini tidak mengganggu pengembangan vaksin, tetapi kita harus melakukan surveilans sehingga kita tahu suatu saat ketika terjadi mutasi baru sehingga karakter virusnya berubah barangkali perlu dilakukan modifikasi vaksinnya. Karena itu, vaksin yang awal tiba ini perlu kita mulai segera menangani pandemi ini dengan baik," kata dia.

"Tetapi paling penting belum tahu persis daya tahan tubuh yang ditimbulkan vaksin itu bertahan di tubuh kita, sehingga ada kemungkinan program vaksinasi kembali apakah tahun depan atau tahun berikutnya. Kemudian perhatikan mutasi virus SARS-CoV-2 itu tadi," jelas Bambang menambahkan.

Ingat, saat ini jumlah kasus COVID-19 di Indonesia masih tinggi. Untuk itu jangan lupa tetap patuhi protokol kesehatan dan lakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Jauhi Kerumunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun,

#pakaimasker
#jagajarak
#cucitangan
#satgascovid19
#ingatpesanibu