Vaksin Nusantara Terawan Ditunda, BPOM: Kita Tidak Pilih-pilih

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Vaksin berbasis sel dendritik atau dikenal dengan vaksin nusantara tak direstui untuk lanjut ke uji klinis fase kedua oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI. Beberapa pihak mempertanyakan terkait langkah tersebut dan menyebut ada ketidakberpihakan BPOM RI terhadap tim peneliti.

Menanggapi hal itu, Kepala BPOM RI, Penny K Lukito menegaskan bahwa pihaknya telah menilai proses pembuatan vaksin nusantara yang digagas oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Menurutnya, ada beberapa langkah yang memang perlu dikoreksi dan BPOM akan menunggu hasil koreksi tersebut.

"Sudah final dalam hal tersebut. Kami nunggu koreksi yang akan dilakukan. Apa yang sekarang terjadi di luar BPOM, bukan kami lagi untuk nilai itu. BPOM hanya melakukan pendampingan. BPOM tidak pilih-pilih," terangnya dalam konferensi pers daring, Jumat 16 April 2021.

Penny menjelaskan bahwa BPOM telah menilai hasil uji fase satu butuh banyak koreksi. Sebab, proses pengembangan vaksin harus sesua standard yang ada. Apabila melewati satu tahapannya saja, kata Penny, akan terjadi kegagalan di fase sebelumnya. Terlebih, vaksin ini akan digunakan kepada manusia secara massal.

"Harus dimulai pre-klinik karena itu aspek terhadap perlindungan subjek yang nantinya melibatkan manusia," tutur Penny lagi.

Dari aspek pre-klinik ini, dua hal penting akan diketahui yakni menyangkut keamanan dan efikasinya. Untuk itu, tim peneliti vaksin nusantara maupun pengembang dari tim peneliti lain, Penny mengharapkan agar tak melewati fase apapun untuk membuat vaksin COVID-19.

"Secara natural harus berdasarkan tahapan scientific yang tidak bisa diabaikan. Kalau mau dapat vaksin bermutu, berkualitas, dan memenuhi aspek keamanan dan efikasi," katanya lagi..