Vaksin Pfizer 79 Persen Beri Perlindungan dari COVID-19 Varian Delta

·Bacaan 2 menit

VIVA – Varian Delta atau B1617.2 diketahui telah menyebar ke beberapa negara di dunia termasuk di Indonesia. Varian delta yang pertama kali ditemukan di India ini diduga menjadi pemicu ledakan kasus COVID-19 di India.

Di Indonesia sendiri menurut Juru Bicara COVID-19 dari Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid.,pada Selasa 22 Juni 2021 varian delta di Indonesia hingga saat ini tercatat ada sebanyak 151 kasus.

"Indonesia tercatat 151 varian B1617 (Delta), terutama di DKI, Jawa Tengah dan 6 provinsi lain," kata Nadia, dalam dialog virtual, Selasa, 22 Juni 2021.

Dengan adanya varian delta ini, tidak sedikit dari masyarakat yang bertanya-tanya apakah vaksin yang ada saat ini dan tengah diprogramkan pemerintah efektif dalam melindungi diri mereka dari paparan varian delta? Terkait dengan vaksinasi, baru-baru ini sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet, menyebut bahwa vaksin Pfizer dan AstraZeneca memberikan perlindungan yang baik terhadap strain tersebut.

Para peneliti di Public Health Scotland dan University of Edinburgh, Inggris, menemukan bahwa vaksin Pfizer-BioNTech menawarkan perlindungan yang lebih baik terhadap varian Delta dibandingkan dengan pencegahan Oxford-AstraZeneca, yang dikenal sebagai Covishield di India, seperti dikutip dari laman the hindu business line.

Analisis tersebut mencakup periode dari 1 April hingga 6 Juni 2021, untuk distribusi demografis kasus. Tim menganalisis 19.543 infeksi SARS-CoV-2 yang dikonfirmasi selama periode penelitian, 377 diantaranya dirawat di rumah sakit karena COVID-19 di Skotlandia.

Sekitar 7.723 kasus komunitas dan 134 rawat inap ditemukan memiliki varian Delta coronavirus. Studi tersebut menemukan bahwa vaksin Pfizer menawarkan 92 persen perlindungan terhadap varian Alpha dan 79 persen terhadap strain Delta dua minggu setelah diberikan dosis kedua.

Untuk vaksin AstraZeneca, ada 60 persen perlindungan terhadap Delta sedangkan 73 persen untuk varian Alpha, kata para peneliti.

Mereka juga menemukan bahwa dua dosis vaksin memberikan perlindungan yang jauh lebih baik terhadap varian Delta, dibandingkan dengan satu dosis.

“Risiko masuk rumah sakit COVID-19 kira-kira dua kali lipat pada mereka yang memiliki varian Delta yang menjadi perhatian (VOC) bila dibandingkan dengan Alpha VOC, dengan risiko masuk rumah sakit meningkat terutama pada mereka yang memiliki lima atau lebih komorbiditas yang relevan,” para penulis penelitian dicatat.

Penelitian itu juga mengungkap bahwa vaksin Oxford-AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech COVID-19 efektif dalam mengurangi risiko infeksi SARS-CoV-2 dan rawat inap COVID-19 pada orang dengan Delta VOC.

Namun, para peneliti mencatat bahwa efek pada infeksi varian Delta ini tampaknya berkurang jika dibandingkan dengan mereka yang menggunakan Alpha VOC.

Penulis penelitian memperingatkan bahwa perbandingan vaksin harus ditafsirkan dengan hati-hati karena perbedaan kelompok yang menerima setiap jenis vaksin, dan juga seberapa cepat kekebalan dikembangkan dengan setiap suntikan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel