Vaksin Pfizer dan BioNTech Diklaim Efektif Cegah COVID-19 hingga 90 Persen

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Pandemi virus Corona COVID-19 yang tak kunjung usai membuat beberapa perusahaan di bidang kesehatan gencar membuat vaksin COVID-19. Baru-baru ini, salah satu perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, Pfizer yang juga bekerjasama dengan perusahaan Jerman, BioNTech SE mengklaim jika vaksin buatan mereka ampuh mencegah virus corona hingga 90 persen tanpa adanya efek samping yang berbahaya.

Dilansir Liputan6.com dari Channel News Asia, Senin (9/11/2020) Pfizer dan BioNtech merupakan perusahaan farmasi pertama yang merilis mengenai data hasil penelitian vaksin terhadap 94 sukarelawan. Hasil dari penelitian tersebut dinilai sebagai hasil yang cukup menjanjikan sebagai upaya pencegahan virus corona. Meski begitu, penelitian terhadap vaksin COVID-19 ini masih akan dilanjutkan.

Menurut Dr. Bill Gruber, selaku wakil presiden Pfizer untuk penelitian dan pengembangan vaksin, hasil penelitan ini disebut melebihi dari harapannya.

"Ini adalah berita terbaik saat ini bagi dunia dan bagi Amerika Serikat serta kesehatan masyarakat," ujarnya.

Jadi harapan besar untuk kesehatan masyarakat

Banner Infografis Menguji Calon Vaksin Covid-19 Sinovac. (Liputan6.com/Trieyasni)
Banner Infografis Menguji Calon Vaksin Covid-19 Sinovac. (Liputan6.com/Trieyasni)

Target yang dibuat oleh Pfizer dan BioNtech ialah masuk dalam 10 kandidat vaksin yang masuk dalam pengujian tahap akhir di seluruh dunia. Dimana empat diantaranya merupakan studi besar yang dilakukan di Amerika Serikat.

Meski begitu, Pfizer juga mengingkatkan jika perlindungan awal mungkin saja bisa berubah pada studi akhir. Namun, Bill Gruber juga mengungkapkan jika vaksin yang tengah diuji coba memiliki posisi yang berpotensi untuk menawarkan harapan besar bagi kesehatan masyarakat luas.

Kepala eksekutif BioNTech, Ugur Sahin juga mengatakan jika dia cukup optimis dengan efek imunitas dari vaksin tersebut. Menurutnya meski belum dapat dipastikan, vaksin yang diteliti mampu bertahan untuk menjaga imunitas selama satu tahun.

Sementara itu, FDA sendiri meminta agar kandidat vaksin Amerika dipelajari setidaknya pada 30.000 orang. Selain itu, penelitian juga harus mencakup kelompok lain seperti lansia, hingga kaum minoritas dan orang-orang yang memiliki masalah kesehatan kronis.