Vaksinasi Buat Anak Muda Percaya Jokowi Atasi Pandemi COVID-19

Bayu Nugraha
·Bacaan 2 menit

VIVA – Anak muda mayoritas puas terhadap kinerja Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dalam menangani pandemi wabah COVID-19. Salah satu faktornya, pemerintah menggalakkan program vaksinasi COVID-19 yang membuat anak muda semakin percaya atas mengendalikan pandemi.

Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Rully Akbar mengatakan program vaksinasi yang digencarkan menjadi booster penting meningkatkan kepercayaan atau trust masyarakat terhadap Pemerintahan Jokowi dalam menangani COVID-19.

“Tinggal teknis pelaksanaan dilakukan dengan baik sehingga berjalan baik. Ketika trust terhadap penanganan COVID-19 cukup tinggi, secara otomatis berimbas terhadap kepercayaan di sektor ekonomi,” kata Rully kepada wartawan pada Minggu, 28 Maret 2021.

Menurut dia, tingkat kepercayaan anak muda tinggi kepada pemerintah karena mereka dekat sekali dengan internet maupun informasi yang cepat. Sehingga, anak muda begitu mudah mengakses informasi terkait penanganan COVID-19 yang dilakukan pemerintah.

“Terkait dengan tingkat kepercayaan yang cukup tinggi akan penanganan pandemi, dekat isunya dengan data yang tersaji atas berapa yang terpapar COVID-19 dan berapa yang sembuh. Lalu juga upaya pemerintah yang cukup cepat dalam pengadaan vaksin,” ujarnya.

Diketahui, Indikator Politik Indonesia melakukan survei dengan cara kontak telepon kepada responden sebanyak 1.200 orang berusia 17 tahun sampai 21 tahun atau generasi muda. Cara ini dilakukan mengingat situasi masih pandemi COVID-19, sehingga sulit untuk tatap muka.

Dalam penanganan COVID-19, anak muda cukup percaya dengan Jokowi menangani wabah COVID-19 sebesar 50,9 persen; sangat percaya 4,5 persen; sangat tidak percaya hanya ,5 persen; tidak percaya 12,5 persen; biasa saja 30,1 persen; dan tidak tahu/tidak jawab 1,6 persen.

Selain itu, anak muda yang bersedia melakukan vaksinasi COVID-19 juga cukup tinggi yakni sangat bersedia 10,3 persen; cukup bersedia 62,9 persen; kurang bersedia 19,6 persen; sangat tidak bersedia 1,9 persen; dan tidak tahu/tidak jawab 5,3 persen.

Metode yang digunakan simple random sampling dengan ukuran sampel 1.200 responden toleransi kesalahan (margin of error) sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara profesional pada 4-10 Maret 2021.

Baca juga: Ajak Umat Islam Divaksin, Airlangga: Agar Ekonomi Nasional Membaik