Vaksinasi COVID-19 Bisa Bentuk Kekebalan Selama Bertahun-tahun

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Dalam dua studi baru ditemukan bahwa kekebalan terhadap virus Corona bisa sampai satu tahun atau bahkan seumur hidup dan terus meningkat seiring waktu, terutama setelah vaksinasi COVID-19.

Temuan ini tentunya menambah daftar manfaat vaksinasi COVID-19 dan membantu menghilangkan keraguan beberapa orang yang masih khawatir akan perlindungan terhadap virus hanya berumur pendek, tulis NYTimes.

Kedua penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan orang yang telah pulih dari COVID-19 dan kemudian divaksinasi, tidak lagi memerlukan booster. Akan tetapi, orang yang divaksinasi yang tidak pernah terinfeksi kemungkinan besar akan membutuhkan booster, begitu pula sebagian kecil orang yang terinfeksi tetapi tidak menghasilkan kekebalan yang kuat.

Menurut salah satu penelitian yang diterbitkan pada Senin (24/05/2021) di jurnal Nature, sel yang mempertahankan memori virus bertahan di sumsum tulang dan dapat mengeluarkan antibodi kapan pun dibutuhkan.

Adapun sebuah situs khusus penelitian biologi bernama BioRxiv, merilis studi yang menemukan bahwa sel B memori tersebut terus menjadi dewasa dan menguat setidaknya selama 12 bulan setelah infeksi awal.

"Makalah ini konsisten dengan literatur yang berkembang yang menunjukkan bahwa kekebalan yang ditimbulkan oleh infeksi dan vaksinasi untuk SARS-CoV-2 tampaknya berumur panjang," kata Scott Hensley, ahli imunologi di University of Pennsylvania yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Namun karena virus seperti virus Corona berubah secara signifikan setiap beberapa tahun, oleh karena itu kita tetap bisa terinfeksi berulang kali sepanjang hidup yang mungkin lebih karena variasi virusnya daripada karena kekebalan kita menurun.

vaksinasi meningkatkan kekebalan tubuh

Menurut Michel Nussenzweig, seorang ahli imunologi di Rockefeller University di New York yang memimpin studi tentang pematangan memori, vaksinasi yang membuat respons sistem kekebalan sel B membuat tubuh sangat kuat sehingga menggagalkan bahkan varian virus.

“Orang yang terinfeksi dan mendapatkan vaksinasi benar-benar memiliki kekebalan yang hebat karena terus mengembangkan antibodi mereka. Saya berharap (kekebalan) akan bertahan lama,” kata Dr. Nussenzweig.

Pada prinsipnya, saat pertama kali bertemu virus, sel B berkembang biak dengan cepat dan menghasilkan antibodi dalam jumlah besar. Setelah infeksi akut diatasi, sejumlah kecil sel tinggal di sumsum tulang, terus memompa keluar antibodi dalam jumlah sedang.

Untuk melihat sel B memori khusus untuk virus corona baru, para peneliti yang dipimpin oleh Ali Ellebedy dari Washington University di St. Louis menganalisis darah dari 77 orang dalam interval tiga bulan, dimulai sekitar sebulan setelah mereka terinfeksi virus corona. Hanya enam dari 77 yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19; sisanya mengalami gejala ringan.

Untuk hasil tingkat antibodi orang-orang ini, penurunannya cepat dalam kurun waktu empat bulan setelah infeksi dan terus menurun secara perlahan berbulan-bulan setelahnya. Hasil ini sejalan dengan penelitian lain.

Menurut beberapa ilmuwan, penurunan tersebut merupakan pertanda menurunnya kekebalan. Jika darah mengandung antibodi dalam jumlah tinggi untuk setiap patogen yang pernah ditemui tubuh, darah akan segera berubah menjadi lumpur kental. Alih-alih, kadar antibodi dalam darah turun drastis setelah infeksi akut, sementara sel B memori tetap diam di sumsum tulang, siap untuk bertindak bila diperlukan.

Adapun tim Dr. Ellebedy memperoleh sampel sumsum tulang dari 19 orang kira-kira tujuh bulan setelah mereka terinfeksi. Lima belas diantaranya terdeteksi memiliki sel B memori, sementara pada empat lainnya tidak terdeteksi. Ini menunjukkan bahwa beberapa orang mungkin membawa sel B memori sangat sedikit atau tidak sama sekali. Intinya, meskipun Anda terinfeksi, bukan berarti Anda memiliki respon imun yang kuat, katanya. Temuan ini semakin memperkuat gagasan pentingnya vaksinasi pada orang yang telah pulih dari COVID-19.

Diantara peserta tersebut, lima diantaranya menyumbangkan sampel sumsum tulang tujuh atau delapan bulan setelah mereka awalnya terinfeksi dan kembali empat bulan kemudian. Dari sana Dr. Ellebedy menemukan jumlah sel B memori tetap stabil selama waktu itu.

Ada juga yang disebut antibodi penetral yang diperlukan untuk mencegah infeksi ulang dengan virus, menurut temuan tim Dr. Nussenzweig, tetap tidak berubah antara enam dan 12 bulan, sementara antibodi terkait tetapi kurang penting perlahan menghilang. Sel B memori terus berkembang, antibodi yang mereka hasilkan mengembangkan kemampuan untuk menetralkan kelompok varian yang lebih luas. Pematangan yang sedang berlangsung ini dapat diakibatkan dari sebagian kecil virus yang diasingkan oleh sistem kekebalan, bisa dikatakan untuk latihan target.

Setahun setelah infeksi, aktivitas menetralkan pada peserta yang belum divaksinasi lebih rendah terhadap semua bentuk virus, dengan kerugian terbesar terlihat pada varian yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan.

Vaksinasi secara signifikan memperkuat tingkat antibodi, juga meningkatkan kemampuan menetralkan tubuh sekitar 50 kali lipat. Hasil penelitian Dr. Nussenzweig menunjukkan bahwa orang yang telah pulih dari COVID-19 dan kemudian divaksinasi akan terus memiliki tingkat perlindungan yang sangat tinggi terhadap varian yang muncul, bahkan tanpa menerima vaksin booster.

Sementara itu, semua ahli sepakat bahwa kekebalan cenderung bekerja sangat berbeda pada orang yang belum pernah menderita COVID-19.

Infografis Vaksinasi Covid-19 Lansia di Indonesia Masih Rendah

Infografis Vaksinasi Covid-19 Lansia di Indonesia Masih Rendah. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Vaksinasi Covid-19 Lansia di Indonesia Masih Rendah. (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak Video Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel