Vaksinasi COVID-19 di Dunia Terus Dimasifkan, Kapan Tersedia untuk Anak-Anak?

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 masih belum berakhir sejak ditetapkan WHO pada 11 Maret 2020. Seluruh dunia mengalami dampak buruk di berbagai sektor akibat pandemi ini.

Sektor ekonomi dan kesehatan menjadi sektor yang paling terpukul. Berbagai cara dan upaya dilakukan agar kondisi ekonomi dan kesehatan dunia pulih dan kembali normal, kendati secara perlahan.

Satu di antara cara untuk memulihkan sektor ekonomi dan kesehatan secara bersamaan adalah dengan memasifkan program vaksinasi.

Vaksinasi adalah tindakan untuk memasukkan vaksin ke tubuh manusia guna mendapatkan reaksi respons imun menghasilkan antibodi. Diharapkan dengan program vaksinasi tersebut antibodi atau imunitas dalam tubuh terbentuk, sehingga mampu mengatasi virus penyebab COVID-19.

Namun, program vaksinasi COVID-19 masih diperuntukkan untuk kalangan dewasa dan usia rentan, termasuk di Indonesia.

"Untuk vaksin anak-anak belum diutamakan mengingat di tingkat dunia sebagian merek vaksin belum sepenuhnya diuji pada kategori anak-anak," kata Wiku Adisasmito, Juru Bicara Satgas COVID-19, dalam keterangan pers, Sabtu (29/5/2021).

"Saat ini Indonesia fokus pada kelompok rentan, dan secara statistik didominasi usia 18 tahun. Hal ini untuk memperlambat laju penularan," Imbuhnya.

Pernyataan tersebut bisa jadi menyiratkan bahwa vaksinasi COVID-19 untuk anak-anak belum tersedia di Indonesia dalam waktu dekat.

Penyedia Vaksin untuk Anak-Anak dan Uji Klinisnya

Ilustrasi vaksinasi. (Foto oleh Gustavo Fring dari Pexels).
Ilustrasi vaksinasi. (Foto oleh Gustavo Fring dari Pexels).

Melansir Healthline, Senin (31/5/2021), penyedia vaksin yang bisa digunakan untuk anak-anak hanya Pfizer dan Moderna. Itu pun digunakan pada anak-anak berusia 12 hingga 16 tahun.

Sementara untuk anak-anak di bawah 12 tahun, masih perlu untuk uji klinis agar terjamin keamanan dan kemanjuran vaksin.

"Studi sedang berlangsung, dan saya menantikan hasil dari studi tersebut." ucap Dr. Dean A. Blumberg, kepala Pediatric Infectious Diesease, Universitas Calfornia, dikutip dari Healthline.

"Tidak ada keajaiban tentang perbedaan antara anak berusia 12 tahun dan anak usia 11 tahun, tetapi Anda perlu melalukan penelitian untuk membuktikan vaksin tersebut aman dan efektif," lanjutnya.

"Anda harus melakukannya pada usia yang berbeda karena kami tahu dosisnya perlu disesuaikan. Apakah dosis diturunkan karena berat badan atau dinaikkan karena sistem kekebalan tubuh belum matang," imbuh Blumberg.

Saai ini, Pfizer sedang melakukan uji klinis pada anak sehat berusia 6 bulan hingga 11 tahun. Uji klinis terbagi kedalam tiga kelompok usia, yakni enam bulan sampai dua tahun, dua sampai lima tahun, dan lima sampai 12 tahun.

Moderna juga melakukan uji klinis untuk anak usia 6 bulan hingga 11 tahun. Johnson & Johnson dan Novavax melanjutkan uji coba pada remaja antara 12 dan 17 tahun.

Hasil dari uji coba pada anak kecil diharapkan tersedia di akhir tahun.

Tanggapan Orang Tua Terkait Rencana Vaksinasi untuk Anak-Anak

Ilustrasi vaksinasi (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)
Ilustrasi vaksinasi (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

Blumberg juga mencatat berbagai tanggapan dari para orang tua tentang vaksinasi pada anak-anak.

"Ada sebagian orang tua yang sangat ingin anaknya divaksinasi. Mereka takut COVID-19, mereka tahu bahwa anak-anak mereka mungkin sakit, mereka ingin anak-anak mereka kembali ke sekolah dan beraktivitas normal dengan pikiran tenang. Inilah orang-orang yang antusias untuk divaksinasi," ucap Blumberg

"Lalu, ada orang yang mungkin ingin menunggu dan melihat, dan tidak ingin menjadi yang pertama," lanjutnya.

"Lalu, ada mereka yang ragu akan vaksin, dan kami harus melakukan edukasi dan memastikan mereka menyadari pengalaman yang kami miliki dengan vaksin benar-benar kuat. Sistem keamanan bekerja dan sangat baik. Kami memiliki lebih dari 270 juta dosis vaksin yang diberikan di AS dan lebih dari 1,3 miliar dosis vaksin COVID yang diberikan di seluruh dunia."

Blumberg berharap setelah vaksin disetujui untuk digunakan pada anak-anak, dunia akan selangkah lebih dekat untuk mencapai kekebalan dan kembali ke normalitas.

"Selama ada segmen populasi yang signifikan yang tidak kebal, kita tidak akan mendapatkan kekebalan, dan kita akan terus menularkan dan segmen populasi itu akan rentan terhadap infeksi," ucapnya.

Blumberg juga memiliki data bahwa anak-anak berperan lebih dari 20 persen infeksi baru. Infeksi baru akan terjadi pada mereka yang tidak kebal, sementara anak-anak yang dibawah 12 tahun belum berhak mendapat vaksin.