Vaksinasi COVID-19 di India Jadi Terbesar di Dunia

Agus Rahmat, Dinia Adrianjara
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah India, memulai program vaksinasi COVID-19 secara massal kepada masyarakat, melalui aksi yang disebut sebagai program vaksinasi terbesar di dunia.

Perdana Menteri Narendra Modi, meresmikan program vaksinasi akhir pekan, untuk memulai proses pemberian vaksin di lebih dari 3.006 pusat kesehatan di seluruh negara bagian dan wilayah persatuan.

Suntikan pertama diberikan kepada petugas kesehatan bernama Manish Kumar, yang bekerja di rumah sakit All India Institute of Medical Science (AIIMS). Kumar yang bekerja sebagai petugas sanitasi di AIIMS, mengaku tidak enggan untuk mendapatkan vaksin.

"Sekarang saya tidak ragu lagi tentang vaksin itu. Setiap orang harus di inokulasi," kata Kumar, seperti dilansir dari Independent, Senin 18 Januari 2021.

Baca juga: Setelah Divaksinasi, Apakah Bisa Menularkan Virus Corona

Pemerintah India telah menyetujui penggunaan dua kandidat vaksin awal bulan ini di antaranya vaksin Oxford-AstraZeneca yang diproduksi dengan nama 'Covidhield' di negara tersebut. Dan vaksin 'Covaxin' yang dikembangkan sendiri oleh Bharat Biotech.

Namun muncul kontroversi terhadap Covaxin, karena kurangnya data uji coba fase tiga yang dipublikasikan. Dari 81 lokasi vaksinasi di Ibu Kota Delhi, Covishield dikelola di 75 pusat kesehatan, sementara enam tempat lainnya diberikan Covaxin buatan lokal.

Menurut aturan pemerintah India saat ini, penerima vaksin tak bisa membuat pilihan di antara dua vaksin yang akan mereka terima.

Rencananya untuk fase pertama, pemerintah India akan melakukan vaksinasi untuk menjangkau 300 juta pekerja yang menjadi garda depan di seluruh wilayah negara, termasuk kepada 30 juta dokter dan perawat. Sementara fase kedua, akan mencakup 270 juta warga dengan usia 50 tahun ke atas dan mereka yang termasuk dalam kategori rentan.

Untuk diketahui, India memiliki rekam jejak yang panjang dalam bidang farmasi dan diperkirakan memproduksi 60 persen vaksin dunia. Negara di Asia Selatan ini juga memiliki sejarah sukses dalam memberantas cacar dan polio, dan telah mengembangkan kapasitas tersebut selama pandemi.

Negara ini telah melaporkan 10,5 juta kasus infeksi COVID-19 hingga saat ini atau terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Lebih dari 150 ribu orang telah meninggal di dunia akibat COVID-19.