Vaksinasi dan Gairah Ekonomi Lampung

·Bacaan 5 menit

VIVA – Resesi ekonomi masih menghantui Lampung, ini tergambar dari pertumbuhan ekonomi triwulan I 2021 yang telah dirilis oleh BPS Lampung. Pertumbuhan ekonomi Lampung kembali mengalami kontraksi 2,01 persen (y-o-y) di triwulan I 2021.

Namun pertumbuhan ekonomi yang terjadi ini sedikit mengalami perbaikan bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada triwulan IV 2020, ekonomi Lampung mengalami kontraksi 2,26 persen (y-o-y).

Kontraksi ekonomi pada triwulan I 2021 ini merupakan yang keempat kalinya terjadi di Lampung. Kontraksi ekonomi mulai terjadi di Lampung di triwulan II 2020 (3,57 persen y-o-y), seiring dengan pandemi Covid-19 juga mulai melanda Lampung pada saat itu.

BPS Lampung mencatat bahwa sektor transportasi dan pergudangan menjadi sumber utama kontraksi ekonomi Lampung pada triwulan I 2021. Ini mengindikasikan bahwa masih adanya kekhawatiran masyarakat untuk melakukan mobilitas seperti sebelum pandemi melanda Lampung.

Dari sisi pengeluaran, catatan BPS Lampung menunjukkan konsumsi rumah tangga menjadi sumber utama kontraksi ekonomi Lampung di triwulan I 2021. Ini juga mengindikasikan masih ada keraguan bagi sebagian masyarakat Lampung untuk membelanjakan uangnya di tengah kondisi ketidakpastian akan berakhirnya pandemi.

Pandemi telah menurunkan gairah ekonomi Lampung hingga mengakibatkan terjadinya kontraksi ekonomi selama empat triwulan berturut-turut. Keadaan ini turut menjadi penyebab terjadinya resesi ekonomi Lampung hingga saat ini.

Catatan trend pertumbuhan ekonomi Lampung (y-o-y) selalu mengalami kontraksi mulai triwulan II 2020 hingga triwulan I 2021. Walaupun terjadi kontraksi ekonomi, trend pertumbuhan ekonomi Lampung (y-o-y) juga menunjukkan perbaikan di setiap triwulan. Hal ini mengindikasikan adanya secercah harapan bagi Lampung untuk keluar dari jurang resesi.

Vaksinasi yang sedang berjalan saat ini diharapkan dapat mencapai herd immunity. Tujuannya agar masyarakat Lampung tidak lagi cemas akan adanya pandemi. Kepercayaan masyarakat Lampung kembali pulih, sehingga mereka dapat melakukan mobilitas dan aktivitas ekonomi, agar percepatan pemulihan ekonomi Lampung dapat segera terwujud.

Geliat perbaikan ekonomi mulai nampak di berbagai sektor dominan dalam perekonomian Lampung. Sektor industri pengolahan yang menjadi sektor dominan kedua di Lampung tumbuh tipis sebesar 0,02 persen (y-o-y) pada triwulan I 2021.

Sementara sektor dominan ketiga yakni sektor perdagangan yang walaupun masih mengalami kontraksi 5,93 persen (y-o-y) pada triwulan I 2021, namun kontraksi tersebut lebih baik dibandingkan dengan triwulan IV 2020 (9,87 persen y-o-y). Sementara sektor pertanian sebagai sektor andalan ekonomi Lampung, pada triwulan I 2021 mengalami kontraksi 1,73 persen (y-o-y).

Ini disebabkan antara lain karena menurunnya produksi jagung, pisang dan kayu log sebagai kecenderungan petani untuk mengurangi produksinya seiring belum membaiknya konsumsi masyarakat di tengah kondisi ketidakpastian akibat pandemi Covid-19.

BPS Lampung telah merilis Tingkat Penganguran Terbuka (TPT) Februari 2021 sebesar 4,54 persen, turun 0,12 persen poin dibanding Agustus 2020. Sebagaimana diketahui bahwa kondisi Agustus 2020 dan Februari 2021 adalah kondisi pandemi Covid-19 sudah melanda Lampung.

Ini menandakan bahwa selama pandemi telah terjadi geliat perbaikan ekonomi Lampung yang tercermin dari penurunan tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja pada Februari 2021 dibandingkan Agustus 2020.

Penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 Februari 2021 sebanyak 340,3 ribu orang, menurun sebanyak 315,6 ribu orang (48,12 persen) dibandingkan Agustus 2020. Artinya, geliat perbaikan ekonomi Lampung juga telah terjadi selama masa pandemi yang tercermin dari menurunnya penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 pada Februari 2021 dibanding Agustus 2020.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga memberikan peran penting pada perekonomian Lampung, karena 63,76 persen ekonomi Lampung ditopang dari konsumsi masyarakat. Namun, masyarakat masih menahan untuk membelanjakan uangnya di tengah kondisi ketidakpastian akibat pandemi Covid-19.

Ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi konsumsi rumah tangga yang mengalami kontraksi 3,89 persen di triwulan I 2021. Meskipun demikian, sudah nampak sedikit kepercayaan masyarakat untuk melakukan aktivitas konsumsi di triwulan I 2021. Hal ini terlihat dari nilai kontraksi pada komponen konsumsi rumah tangga di triwulan I 2021 yang lebih baik dibandingkan dengan kontraksi di triwulan IV 2020 (3,97 persen y-o-y).

Pemberian THR kepada ASN dan pegawai swasta sebagai stimulus untuk mendorong konsumsi rumah tangga baru akan terlihat pada triwulan II nanti. Stimulus lain yang dapat diberikan pemerintah Lampung adalah dengan melakukan percapatan pemanfaatan dana desa dengan merealisasikan bantuan sosial/subsidi dan program perbaikan kesejahteraan bagi UMKM untuk mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga sehingga ekonomi Lampung dapat bergairah kembali.

Di sisi lain, konsumsi pemerintah juga memegang peranan penting dalam perekonomian Lampung. Akan tetapi di triwulan I 2021pemerintah belum melakukan pembelanjaan. Sehingga, realisasi belanja pegawai dan belanja barang dan jasa pemerintah Lampung yang bersumber dari APBN maupun APBD masih belum mengalami pertumbuhan.

Momentum Idul Fitri dan program vaksinasi mendorong masyarakat untuk bergerak dan beraktivitas. Rasa jenuh setelah lebih dari setahun hidup berdampingan dengan pandemi Covid-19 pada akhirnya menjadi pemicu ramainya pasar dan pusat perbelanjaan di Lampung. Wacana dibukanya kembali sekolah pada tahun ajaran baru nanti juga mulai bergulir di masyarakat.

Secara ekonomi tentunya hal ini sangat baik, karena akan memicu pertumbuhan ekonomi Lampung untuk tumbuh positif dan membawa Lampung keluar dari jurang resesi.

Namun, diperlukan juga kesadaran dari masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan. Masyarakat tidak boleh abai dan lalai. Gerakan 5M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas) harus tetap dilakukan di setiap aktivitas masyarakat.

Masyarakat dan pemerintah harus tetap waspada bahwa pandemi ini belum berkahir. Bahkan, harus ada juga peningkatan kewaspadaan masyarakat dan pemerintah terhadap masuknya varian baru virus Covid-19 dari India ke Lampung.

Peran penting masyarakat sangat diperlukan untuk meningkatkan gairah ekonomi Lampung. Kedisiplinan masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan mutlak harus dilakukan. Vaksinasi bukan berarti kebal Covid-19, namun vaksinasi hanya sebagai upaya pemerintah menekan penyebaran Covid-19.

Masyarakat harus sadar bahwa dengan mengurangi mobilitas akan turut membantu menekan penyebaran Covid-19. Tidak ada yang menjamin bahwa dengan membawa hasil rapid anti gen negatif selama dalam melakukan perjalanan, tidak akan terpapar Covid-19. Semoga pandemi segera berakhir dan perekonomian Lampung akan lebih baik lagi. (Penulis: Febiyana Qomariyah, Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Lampung)