Vaksinasi Percepat Pemulihan Ekonomi, Bos BI Ungkap Buktinya

·Bacaan 2 menit

VIVA – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mendorong Pemerintah untuk mempercepat proses vaksinasi COVID-19. Menurutnya, cepatnya proses vaksinasi beriringan kuat dengan cepatnya proses pemulihan ekonomi nasional.

Dia mencontohkan, di China dan Amerika Serikat yang proses vaksinasinya cepat dilakukan kepada masyarakatnya, menyebabkan pertumbuhan ekonomi kedua negara ini diperkirakan bisa tumbuh signifkan sepanjang 2021.

Meski adanya penyebaran varian delta COVID-19, Perry memperkirakan pertumbuhan ekonomi China pada 2021 akan mencapai 8,4 persen. Sedangkan Amerika serikat akan mampu tumbuh hingga 6,8 persen.

"Di negara-negara yang vaksinasinya cepat penurunan kasus COVID nya bisa cepat dan juga lebih besar stimulus fiskal dan moneternya lebih cepat recover-nya yaitu di AS dan Tiongkok," kata dia dalam diskusi virtual, Jumat, 30 Juli 2021.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi global diperkirakannya juga akan semakin solid didorong pemulihan cepat yang terjadi di dua negara tersebut. Pada tahun ini, dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global menjadi 5,8 persen.

"Tiongkok lebih dulu pulih dan Amerika Serikat sekarang sudah pulih. Kami melihat proyeksi-proyeksi mereka itu semakin meningkat, Amerika tahun ini kita perkirakan tumbuh 6,8 persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya," tegas Perry.

Meski ekonomi global akan tumbuh lebih cepat, Perry menekankan, akan terjadi kesenjangan pemulihan antar negara. Ini disebabkan pengaruh proses vaksinasi antara negara yang tidak merata kecepatannya satu dengan yang lain.

Baca juga: Jokowi Tegaskan Usaha Mikro Harus Tahan Banting di Tengah Pandemi

"Tapi terjadi divergensi pertumbuhan ekonom antar negara, lagi-lagi semakin cepat vaksinasi, semakin besar stimulus, lebih cepat recover-nya. Negara yang memang agak vaksinasinya memang baru pemulihan ekonominya baru," tegasnya.

Bagi Indonesia sendiri, Perry mengatakan, perkiraan pertumbuhan ekonomi terbarunya hanya akan ada di kisaran 3,5-4,3 persen. Padahal, dia menegaskan, harga-harga komoditas global sedang tinggi-tingginya untuk mendongkrak ekspor.

"Oleh karena itu Indonesia harus mengejar ketertinggalan ini agar segera pulih. Global memberikan sangat potensi khususnya untuk produsen komoditas di Luar Jawa, karena tahun ini harga komoditas kita naiknya tinggi," papa Perry.

Ini menurutnya tercermin dari Indeks Harga Komoditas Ekspor Indonesia per Juli 2021 yang melejit hingga 35,3 persen pada tahun ini. Jauh lebih tinggi dari perkiraan indeks pada periode April 2021 yang hanya berada di kisaran 15,9 persen sepanjang 2021.

"Bahkan di wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua itu tumbuhnya juga di atas 5 atau 6 persen. Ini potensi yang harus kita gunakan agar bisa mendorong ekonomi kita dari ekspor. Karenanya memang perlu vaksinasi dan prokes yang lebih ketat," tegas dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel