Varian AY.4.2 Terdeteksi di Malaysia - Singapura, Pakar: Jangan Panik, Tetap Waspada

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Varian Corona AY.4.2 atau kerap disebut masyarakat dengan Delta Plus telah terdeteksi di Singapura dan Malaysia dalam waktu tidak terlalu jauh. Meski beberapa data menunjukkan varian ini 10 persen lebih menular dari Delta masyarakat diharap tidak panik.

"Indonesia tidak perlu panik. Waspada," kata Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia, Zubairi Djoerban.

Dalam akun Twitternya, Zubairi, menjelaskan alasan Indonesia tidak perlu panik. Pertama, kesadaran masyarakat Indonesia cukup dbaik dalam menjalankan protokol kesehatan dan vaksinasi. Lalu, positivity rate sudah di bawah 2 persen. "Meski begitu, ya tetap harus waspada," katanya.

Senada dengan Zubairi, Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama juga mengingatkan masyarakat cara mengantisipasi varian ini dengan protokol kesehatan yang ketat. Terlepas varian ini lebih berat atau tidak, paling penting tetap memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun serta menjauhi kerumunan.

“Terkait dia lebih berat atau enggak kita belum tahu, apa dia memengaruhi vaksin atau enggak kita belum tahu, tapi kita tahu 10 sampai 15 persen lebih mudah menular, jadi antisipasinya untuk masyarakat umum tetap protokol kesehatan dengan ketat," kata Tjandra ke Health-Liputan6.com.

Tjandra menambahkan, tingkat keganasan dan hal-hal lain terkait AY.4.2 tidak hanya belum di ketahui di Indonesia tapi juga di seluruh dunia.

“Saya enggak bicara Indonesia saja, dunia juga belum tahu apa lebih ganas atau tidak.”

Jika Ada di Indonesia, Belum Tentu Ganas atau Lebih Menular

Ilustrasi Virus Corona 2019-nCoV (Public Domain/Centers for Disease Control and Prevention's Public Health Image)
Ilustrasi Virus Corona 2019-nCoV (Public Domain/Centers for Disease Control and Prevention's Public Health Image)

Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Profesor Amin Soebandrio mengatakan bahwa keganasan COVID-19 varian Delta Plus AY.4.2 belum bisa digambarkan karena belum terdeteksi di Indonesia.

“Saat ini karena belum ada di Indonesia, kita tidak bisa menggambarkan data seperti itu. Namun, jika dilihat dari varian Delta pada umumnya, yang terjadi di luar (negeri) itu tidak terjadi di Indonesia,” ujar Amin kepada Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, Kamis (11/11/2021).

Artinya, lanjut Amin, tidak semua infeksi COVID-19 yang diakibatkan varian Delta itu berat dan tidak semua yang berat itu karena Delta.

Dengan kata lain, Amin berpendapat bahwa jika Delta Plus AY.4.2 disebut lebih ganas di negara lain, hal ini belum tentu sama jika virus tersebut ada di Indonesia.

“Varian ini dikhawatirkan lebih cepat menular 10 persen ketimbang Delta lainnya, tapi sekali lagi itu tidak selalu dikaitkan dengan berat ringannya kasus,” katanya.

“Karena belum ada di Indonesia, kita belum mengetahui bagaimana perangai varian itu di masyarakat," katanya.

Saran Pakar untuk Pemerintah

Sementara belum terdeteksi di Indonesia, Tjandra mengusulkan untuk memperbanyak pemeriksaan whole genome sequencing (WGS).

“Supaya kalau ada, akan bisa terdeteksi.”

Saat ini, pemeriksaan whole genome sequencing baru sekitar 1.500-1.800 per bulan.

Langkah antisipasi selanjutnya adalah pengetatan perbatasan juga perlu dilakukan seperti saran Zubairi dan Amin.

"Kita tidak tahu dari mana saja yang membawa virus, yang pasti yang harus dilakukan ya sama seperti penanganan pada COVID-19 varian lain. Misalnya seperti PCR, karena kita tidak tahu varian jenis apa yang dibawa seseorang,” kata Amin.

Pemerintah, dalam beberapa kesempatan sudah menyampaikan bahwa guna mengantisipasi masuknya varian baru ini, dengan penguatan dan pengetatan pintu masuk negara. Seperti pintu masuk melalui jalur udara, laut, maupun darat.

"Untuk mengantisipasi masuknya atau importasi varian-varian baru salah satunya adalah varian AY.4.2, kita sudah melakukan penguatan-penguatan di pintu masuk negara. Baik itu pintu masuk udara, pintu masuk laut, maupun pintu masuk darat," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi.

Hal senada sebelumnya disampaikan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengenai pengetatan perbatasan dan pintu masuk internasional. Hal ini dilakukan mengingat banyak orang Indonesia pulang-pergi dari dan ke Malaysia, baik melalui jalur darat, laut dan udara.

"Ini nanti kita tingkatkan penjagaannya agar kita bisa menahan potensi masuknya varian baru ini ke Indonesia," tegas Budi Gunadi pada Senin, 8 November 2021.

Nadia mengajak masyarakat Indonesia yang belum divaksinasi untuk segera mendapatkan dosis 1 maupun dosis lengkap COVID-19. Sehingga, percepatan vaksinasi COVID-19 bisa terwujud yang bisa menekan laju penularan virus COVID-19.

"Kita berharap dengan percepatan vaksinasi menekan terus laju penularan virus agar tidak memberi kesempatan Varian Delta berkembang lebih lanjut."

Infografis Covid-19 Varian Delta Plus Muncul di Singapura dan Malaysia.

Infografis Covid-19 Varian Delta Plus Muncul di Singapura dan Malaysia. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Covid-19 Varian Delta Plus Muncul di Singapura dan Malaysia. (Liputan6.com/Trieyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel