Varian Baru COVID-19 Bermunculan, Kemenkes Imbau Deteksi Dini

Lutfi Dwi Puji Astuti, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Jubir vaksinasi COVID-19 dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan Kemenkes sudah mendeteksi adanya 10 kasus varian baru B 117 di Indonesia. Ia meminta temuan ini harus menjadi perhatian bersama karena varian baru tersebut ada yang sudah merupakan transmisi lokal.

Transmisi lokal varian B117 sudah terjadi di Kabupaten Karawang, di Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Sumatera Utara, dan Provinsi Kalimantan Selatan. Salah satu antisipasi utama untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus dan termasuk juga mengatasi penularan varian baru, maka perlu ada pembatasan mobilitas.

“Sehingga kembali lagi pembatasan menjadi kunci utama kita untuk mengatasi varian dan penyebaran dari varian baru ini. Kita melihat bahwa mobilitas yang tinggi akan menyebabkan lonjakan kasus sementara mobilitas yang rendah itu akan menekan laju penularan,” kata dr. Nadia pada konferensi pers secara virtual, beberapa waktu lalu.

Peningkatan kasus yang terjadi di berbagai negara menjadi kewaspadaan bersama. Kasus di India yang saat ini sudah hampir mencapai angka 18 juta kasus COVID-19 dengan 400 ribu konfirmasi kasus positif, serta kematian yang terjadi setiap 4 menit, bisa menjadi pembelajaran untuk Indonesia jangan sampai mengalami hal yang sama.

Dokter Nadia mengatakan biasanya jumlah kasus di Indonesia antara di bawah 5 ribu atau 4 ribu, atau paling sedikit 5.500. Kemarin faktanya melonjak sebanyak 5.800 kasus artinya ada tambahan sebanyak 600 kasus.

“Ini yang tentunya selalu kita harapkan bahwa penurunan kasus betul-betul kita bisa turunkan ke titik yang paling rendah, dan kita tekan supaya tidak ada terjadi lonjakan kasus. kami Ingatkan kemarin terjadi penambahan sebanyak 600 yang tentunya harus menjadi kewaspadaan,” tegas Nadia.

Kalau dilihat grafiknya kasus mulai turun sejak awal Februari terus sampai dengan Maret, di April terlihat ada sedikit kenaikan. Untuk itu, tak hanya membatasi mobilisasi dan meningkatkan protokol kesehatan, Kemenkes turut mengimbau agar deteksi dini juga dilakukan guna mencegah penyebaran varian baru COVID-19.

Masyarakat Indonesia kini dapat menggunakan alat uji PCR (Polymerase Chain Reaction) melalui program jaminan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah. Termasuk melalui Alat Uji Molekuler COVID-19 dari PT. Daewoong Pharmaceutical Company Indonesia bernama 'AccuraDTectSARS-COV-2 RT-qPCR Kit (alat uji PCR)' dalam E-Katalog Indonesia.

AccuraDTect tidak hanya menargetkan gen N2, yang merupakan target gen virus COVID-19 sesuai dengan arahan Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) AS, tetapi juga leader sequence yang memiliki jumlah gen N2 yang sama atau lebih yang ditemukan pada sel terinfeksi virus. Alat uji ini memiliki tingkat sensitivitas tinggi dan dapat mendiagnosis infeksi virus dalam waktu empat jam setelah pengambilan sampel.

"Permintaan alat uji PCR semakin meningkat seiring dengan penyebaran COVID-19 yang semakin luas di seluruh dunia. Sebagai penyedia alat uji PCR buatan Korea pertama yang telah terdaftar dalam E-Katalog, kami berharap alat uji berkualitas yang disediakan oleh Daewoong dapat membantu upaya penanganan COVID-19 di Indonesia," ujar CEO PT. Daewoong Pharmaceutical Company Indonesia, Sengho Jeon.