WHO: Varian COVID-19 India Belum Mengkhawatirkan

Rochimawati
·Bacaan 1 menit

VIVA – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Healt Organization (WHO) mengatakan bahwa varian virus corona baru yang ditemukan di India, belum diklasifikasikan sebagai hal yang mengkhawatirkan.

Varian virus COVID-19 India yang sangat menular telah menyebar seperti api di seluruh negeri dan sekarang juga hadir di banyak negara di dunia. Tetapi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan agar tidak mengambil kesimpulan tentang varian virus corona baru yang ditemukan di India, dengan mengatakan belum mengklasifikasikannya sebagai hal yang mengkhawatirkan.

Seorang juru bicara WHO mengatakan bahwa tidak jelas sejauh mana varian itu bertanggung jawab atas peningkatan pesat kasus di India dalam beberapa bulan terakhir, kantor berita DPA melaporkan dikutip dari healtsite.

Juru bicara WHO itu menyebut ada banyak faktor yang bisa menyebabkan hal tersebut. Misalnya, festival dan acara lain dengan banyak peserta mungkin telah mempercepat infeksi. Varian virus corona Inggris juga dapat memengaruhi situasi epidemiologis India.

Di India, lebih dari 350.000 infeksi dilaporkan dalam 24 jam pada hari Senin, lebih dari yang dilaporkan negara mana pun dalam rentang waktu itu. Dengan 1,3 miliar penduduknya, India telah mencatat total lebih dari 17 juta infeksi.

Varian COVID019 Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil semuanya telah diklasifikasikan oleh WHO sebagai "varian yang menjadi perhatian". Varian terbaru pertama kali terdeteksi di India pada 1 Desember 2020.

Menurut WHO, varian dianggap mengkhawatirkan jika menyebar lebih mudah, menyebabkan kasus penyakit yang lebih serius, melewati sistem kekebalan atau mengurangi efektivitas pengobatan yang diketahui.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan secara keseluruhan, jumlah infeksi yang dilaporkan per minggu telah meningkat selama sembilan minggu, sementara jumlah kematian yang dilaporkan telah meningkat selama enam minggu

"Jumlah kasus minggu lalu hampir sama banyaknya dengan lima bulan pertama pandemi gabungan," kata Tedros di Jenewa. Khususnya di India, situasinya "lebih dari sekadar patah hati".