Varian Delta Disebut Lebih Mematikan, Benarkah?

·Bacaan 2 menit

VIVAVarian delta atau varian B1617.2 dari mutasi COVID-19 diketahui sudah menyebar ke beberapa negara termasuk di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan, angka positif varian Delta di Indonesia mencapai 160 kasus. Total kasus tersebut terdeteksi dari proses whole genome sequencing per 20 Juni 2021.

Jumlah tersebut mengalami kenaikan yang cukup tinggi dari sebelumnya. Pada 6 Juni 2021, Kemenkes mencatat jumlah varian Delta sebanyak 31 kasus dan hanya tersebar di lima Provinsi. Sementara itu, berdasarkan data Badan Litbang Kemenkes per 20 Juni, varian Delta ditemukan di sembilan Provinsi di Indonesia.

Sumatera Selatan 3 kasus, Banten 2 kasus, DKI Jakarta 57 kasus. Jawa Barat 1 kasus, Jawa Tengah 80 Kasus, Jawa Timur 10 Kasus, Kalimantan Tengah 3 kasus, Kalimantan Timur 3 kasus dan Gorontalo 1 kasus.

Lantas, bagaimana karakteristik dari varian Delta? Salah satu yang perlu diperhatikan adalah varian Delta diketahui menular sangat cepat. Hal ini diungkapkan oleh Ahli Imunologi dan Virologi, dr. Yordan Khaedir, Ph.D dalam program Hidup Sehat tvOne, Selasa 29 Juni 2021.

"Sampai saat ini setelah beberapa pengamatan dan penelitian memang benar varian yang pertama muncul di India itu sangat memiliki karakteristik yang agak beda dengan varian original atau varian yang sebelumnya ditemukan, salah satunya mudah ditransmisikan, kemudian menular," kata Yordan.

Selain itu, kata Yordan, varian Delta juga sangat kuat untuk menempel pada sel tubuh terutama sel yang ada di paru, reseptor pasangannya lebih kuat, jadi mudah menular dan menginfeksi.

Di sisi lain, varian Delta juga diketahui memakan banyak korban meninggal di India. Lantas, apakah varian Delta lebih mematikan dibandingkan dengan varian lainnya?

"Multifaktor, kita belum bisa katakan Delta itu lebih mematikan dibanding varian lain. Pertama kali ditemukan varian Alfa di Inggris itu lebih mematikan karena lebih mampu menyerang usia dewasa muda. Untuk varian Delta ini karena lihat India lingkungannya seperti itu, fasilitas kesehatannya sangat mempengaruhi, begitu juga di Indonesia," kata Yordan.

Dilanjutkan Yordan, varian Delta ini lebih mematikan atau lebih berbahaya pada orang yang rentan atau orang dengan penyakit penyerta.

"Artinya, ketika sudah gampang menular, bisa menular ke orang-orang yang di sekitar kita yang punya faktor komorbid penyakit penyerta seperti hipertensi, diabet akhirnya ketika menginfeksi orang tersebut akan lebih memperparah keadaannya," ungkap dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel