Varian Delta Mengganas di Kudus, Pakar IDI Beri Peringatan

·Bacaan 3 menit

VIVA – Varian India atau disebut juga dengan delta varian baru COVID-19, mulai menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Terbukti, varian tersebut kian meluas dan menambah kasus COVID-19 di daerah Kudus, Jawa Tengah.

Diketahui, saat ini Kudus tengah disorot akibat lonjakan kasus COVID-19. Ketua Satuan Gugus Tugas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Zubairi Djoerban, pun memperingatkan temuan puluhan varian delta di wilayah tersebut.

"Peringatan. Varian India (Delta) ditemukan pada 28 warga Kudus. Sedikit kelalaian kita, maka bisa menyebabkan bahaya lebih besar," jelasnya dalam cuitan di akun twitter @ProfesorZubairi, Senin 14 Juni 2021.

Bentuk kelalaian masyarakat, akibat melonggarkan protokol kesehatan di bulan ramadhan serta hari raya Idul Fitri kemarin. Serta, diduga tingginya pemudik yang berdatang, mempermudah kasus COVID-19 makin meluas.

"Australia, yang kontrol perbatasannya ketat, bisa ditembus varian ini--yang memang punya transmisibilitas lebih cepat dibanding varian lain. Waspada," kata penemu kasus HIV pertama di Indonesia itu.

Apa itu varian delta?

Dikutip dari laman Web MD, varian delta pertama kali terdeteksi di India pada Desember 2020 dan kini telah menyebar ke 60 negara, lapor CDC. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkannya sebagai varian kekhawatiran global keempat, bersama dengan yang pertama kali diidentifikasi di Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil.

Di India, varian ini dianggap menjadi niang kerok di balik lonjakan infeksi COVID-19 kedua, bahkan disebut sebagai tsunami COVID-19. Sebab, pasien COVID-19 yang tewas di India lebih dari 6.000 pada hari Kamis lalu, rekor tertinggi harian dunia.

Gejala varian delta

Varian tersebut tampaknya menyebabkan gejala yang sangat parah. Beberapa gejala seperti sakit perut, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, gangguan pendengaran, dan nyeri sendi.

Ganesh Manudhane, MD, seorang ahli jantung di Mumbai, India, mengatakan beberapa pasien mengalami pembekuan darah kecil yang sangat parah sehingga menyebabkan gangren. Manudhane mengatakan dia telah merawat delapan pasien untuk pembekuan darah selama 2 bulan terakhir dan dua membutuhkan amputasi jari atau kaki.

Dikutip dari laman NY Times, Dokter India juga melaporkan bahwa COVID-19 sekarang mempengaruhi lebih banyak orang muda yang belum dirawat di rumah sakit dan menginfeksi seluruh keluarga pada saat yang sama, bukan hanya individu.

Ketika varian Delta dari virus corona menyebar di Cina tenggara, para dokter mengatakan mereka menemukan bahwa gejalanya berbeda dan lebih berbahaya daripada yang mereka lihat ketika versi awal virus mulai menyebar pada akhir 2019 di pusat kota Wuhan.

Pasien menjadi lebih sakit dan kondisi mereka memburuk jauh lebih cepat, kata dokter kepada televisi pemerintah pada Kamis dan Jumat. Empat perlima dari kasus bergejala mengalami demam, kata mereka, meskipun tidak jelas bagaimana dibandingkan dengan kasus sebelumnya.

Konsentrasi virus yang terdeteksi di tubuh mereka naik ke tingkat yang lebih tinggi dari yang terlihat sebelumnya, dan kemudian menurun secara perlahan, kata para dokter.

Kini, Guangzhou juga telah mengisolasi dan mengkarantina puluhan ribu penduduk yang berada di dekat mereka yang terinfeksi. Pengujian dan karantina tampaknya telah memperlambat tetapi tidak menghentikan wabah. Komisi Kesehatan Nasional China mengumumkan pada hari Jumat bahwa sembilan kasus baru telah ditemukan di Guangzhou pada hari sebelumnya.

“Epidemi belum berakhir, dan risiko penularan virus masih ada,” kata Chen Bin, wakil direktur Komisi Kesehatan Kota Guangzhou.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel