WHO: Varian Virus Corona B1617 Bukan Penyebab Tunggal Lonjakan COVID-19 di India

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa varian virus corona B1617 bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan lonjakan kasus COVID-19 di India.

Menurut Juru Bicara WHO Tarik Jasaveric, gelombang kedua wabah virus corona di India disebabkan oleh "badai yang sempurna" dari pertemuan massa, tingkat vaksinasi yang rendah, serta varian yang lebih menular.

Jasaveric pada Selasa lalu mengatakan bahwa perilaku yang cepat berpuas diri juga memainkan peran dalam situasi yang hampir menghancurkan sistem kesehatan di negara tersebut.

Dalam beberapa laporan, varian virus corona B1617 yang memiliki dua mutasi, disebut-sebut lebih mudah menular. Namun menurut Jasaveric, sejauh mana perubahan tersebut bertanggung jawab atas lonjakan pesat di India masih belum jelas.

"Karena ada faktor lain seperti pertemuan besar baru-baru ini, yang mungkin telah berkontribusi pada peningkatan tersebut," kata Jasaveric seperti dikutip dari The Guardian pada Kamis (29/4/2021).

Jasaveric juga menambahkan, sistem kesehatan di India juga mendapatkan beban dari orang-orang yang pergi ke rumah sakit dalam keadaan panik, meskipun beberapa dari mereka bisa sembuh dengan perawatan COVID-19 di rumah.

"Saat ini, sebagian masalahnya adalah banyak orang yang bergegas ke rumah sakit (juga karena mereka tidak memiliki akses informasi atau saran), padahal pemantauan perawatan berbasis di rumah bisa dikelola dengan sangat aman," ujarnya seperti mengutip Al Jazeera.

Ia menekankan bahwa hanya sekitar 15 persen pasien COVID-19 yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Menciptakan Badai yang Sempurna

Seorang pasien COVID-19 menerima oksigen di dalam mobil yang disediakan oleh Gurdwara, rumah ibadah Sikh, di New Delhi, India, 24 April 2021. Gelombang pandemi kedua telah melanda India dengan sangat dasyat dan menyebabkan lonjakan harian lebih dari 300.000 kasus. (AP Photo/Altaf Qadri)
Seorang pasien COVID-19 menerima oksigen di dalam mobil yang disediakan oleh Gurdwara, rumah ibadah Sikh, di New Delhi, India, 24 April 2021. Gelombang pandemi kedua telah melanda India dengan sangat dasyat dan menyebabkan lonjakan harian lebih dari 300.000 kasus. (AP Photo/Altaf Qadri)

Menurut Jasaveric, pusat-pusat di tingkat komunitas harus melakukan skrining dan triase atau seleksi pasien, untuk memberikan nasehat mengenai perawatan di rumah yang aman, sembari menyediakan informasi yang bisa dihubungi misalnya lewat hotline.

"Seperti yang terjadi di negara mana pun, WHO mengatakan bahwa kombinasi dari pelonggaran langkah pencegahan pribadi, pertemuan massa, dan varian yang lebih menular sementara cakupan vaksin masih rendah, bisa menciptakan badai yang sempurna," ujarnya.

Dalam konferensi pers pada Senin waktu Jenewa, Swiss, Maria Van Kerkhove, Kepala Teknis COVID-19 WHO mengatakan bahwa hal yang terjadi di India bisa saja terjadi di negara lain.

"Ini bisa terjadi di beberapa negara, di semua negara, jika kita lengah," katanya seraya menambahkan bahwa dia tidak menyebut bahwa India menurunkan pertahanannya.

"Yang saya katakan adalah situasi kita rapuh."

Dia pun mengatakan bahwa semua orang masih harus menerapkan langkah-langkah pencegahan COVID-19 seperti memakai masker, jaga jarak fisik, menghindari kerumunan, meningkatkan ventilasi dalam ruangan, serta vaksinasi.

"Jadi situasinya rapuh. Situasi ini bisa berkembang jika kita membiarkannya. Dan, itulah mengapa penting bahwa setiap orang di planet memiliki peran."

Selain itu, Kerkhove mengingatkan bahwa pemerintah juga harus memberitahu apa yang harus dilakukan masyarakat, membuat warganya tetap aman, serta memastikan mereka melakukan langkah-langkah yang diperlukan.

Infografis Indonesia Waspada Eksodus Tsunami Covid-19 India

Infografis Indonesia Waspada Eksodus Tsunami Covid-19 India (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Indonesia Waspada Eksodus Tsunami Covid-19 India (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini