Venna Melinda: Perselingkuhan dari Mana?  

TEMPO.CO, Jakarta - Kabar tak sedap bermunculan seiring dengan pengajuan gugatan cerai dari Venna Melinda pada 22 Februari 2013. Satu isu yang timbul: ada orang ketiga atau pria idaman lain dalam rumah tangga Venna dengan suaminya, Ivan Fadilla. Kabarnya, anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat ini sempat dekat dengan satu politikus Senayan. Tapi Venna membantahnya.

"Kalau menuduh orang harus ada bukti, itu fitnah," kata dia, Jumat, 12 April 2013.

Menurut Venna, ia terlibat di dunia politik karena mendapat dukungan penuh dari sang suami. Ivan jugalah yang ikut membantu pendanaan pencalonan Venna sebagai anggota dewan dari Partai Demokrat, pada 2009. "Dari awal dia tahu DPR lebih banyak lakinya, dan itu sudah terukur," ujar Venna.

Venna pun mengklaim jika selama ini selalu terbuka dengan sang suami. Ia pun tak percaya ada perselingkuhan, bila pernyataan itu tak benar-benar keluar dari mulut Ivan. "Apa yang Mas Ivan enggak tau? Perselingkuhan dari mana? Saya tidak percaya, kecuali itu keluar dari Mas Ivan."

Soal kemungkinan adanya perempuan lain dalam hidup Ivan, Venna juga emoh berkomentar. Namun ia merasa ada beberapa pihak yang mengambil keuntungan dari proses perceraiannya. Karena banyak gosip yang menurut Venna sangat menyudutkannya. "Saya tidak tau siapa mereka. Tapi kalau ada yang memanfaatkan, misalnya untuk nyaleg, itu dosanya luar biasa besar."

Yang jelas, menurut dia, tak ada pasangan yang menikah menginginkan perceraian. Ia pun tak mau menuduh orang lain. "Surat gugatan saya sangat normatif. Perceraian ini berat buat saya, buat anak-anak, enggak tau kalau buat Mas Ivan," kata dia.

MUNAWWAROH

Terpopuler:

Shena Ubah Aransemen Bukan Bang Toyib

Sruti Respati, Bintang Selendang Merah

Soal Kuba, Gedung Putih Sangkal Klaim Jay-Z

Srawung Seni Bakal Ramaikan Situs Sangiran

Emma Watson Diincar Film `Beauty and The Beast`

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.