Victoria f(x) Putuskan Kontrak Iklan, Tolak Tudingan Kerja Paksa Etnis Uighur di China

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Beijing - Beberapa bulan lalu, sejumlah perusahaan mode dunia mengungkap keprihatinan soal konidisi komunitas Uighur di China. Salah satunya adalah retailer H&M. Seperti diketahui, sejumlah kelompok pembela HAM menuding etnis minoritas ini menjalani kerja paksa terkait produksi kapas di Xinjiang.

Sikap H&M ini ternyata baru-baru ini memicu seruan boikot di China. Tak hanya itu, Victoria f(x), juga menyatakan mundur sebagai model iklan perusahaan ini.

Dilansir dari Allkpop, Jumat (26/3/2021), hal ini telah dikonfirmasi oleh label wanita ini, Victoria Song Studio.

Kepentingan Negara

Victoria Song atau Victoria f(x). (Instagram/ victoaria02_02)
Victoria Song atau Victoria f(x). (Instagram/ victoaria02_02)

"Kepentingan negara lebih penting dari apa pun. Kami dengan tegas melawan pemberian stigma yang melawan China dan tak setuju mempergunakan strategi bisnis untuk menjelek-jelekkan negara dan warganya," begitu pernyataan dari pihak Victoria.

Kerap Bersuara

Victoria Song atau Victoria f(x). (Instagram/ victoaria02_02)
Victoria Song atau Victoria f(x). (Instagram/ victoaria02_02)

Sebelumnya, Victoria Song juga dikenal kerap menyuarakan dukungan terhadap isu-isu yang berkaitan dengan negaranya. Soal hubungan antara China dan Hong Kong, misalnya.

Ia pernah mengunggah foto yang menampilkan tulisan 'Hong Kong is part of China Forever."

Dianggap Merisaukan

Dilansir dari CNN, polemik soal tuduhan kerja paksa muslim Uighur ini kembali mengemuka di China setelah Partai Komunis yang berkuasa, mengunggah pernyataan H&M pada September tahun lalu tentang Xinjiang. Saat itu, H&M mengungkap bahwa mereka merisaukan laporan tentang kerja paksa atas produksi kapas di daerah ini.

Merek asal Swedia ini langsung dikecam dan diboikot oleh publik China.

Penolakan Keras

Kelompok Pemuda Komunis membuat tulisan tentang H&M yang kemudian menjadi viral. Isinya,"Menyebar rumor untuk memboikot katun Xinjiang, dan di waktu yang sama mencari keuntungan di China? Berharap saja!" begitu pernyataan kelompok ini.