VIDEO: 8 Atlet Bulutangkis Indonesia yang Tersangkut Kasus Match Fixing Bukan dari Pelatnas Cipayung PBSI

·Bacaan 2 menit

- Federasi Badminton Dunia, BWF, mengumumkan delapan atlet bulutangkis Indonesia tersangkut skandal match fixing dan perjudian dalam pertandingan. PBSI memberi pernyataan bahwa mengutuk perbuatan tersebut dan kedelapan atlet itu bukan penghuni Pelatnas Cipayung.

Delapan pebulutangkis Indonesia yang tersandung kasus match fixing dan perjudian tersebut yaitu Hendra Tandjaya, Ivandi Danang, Androw Yunanto, Sekartaji Putri, Mia Mawarti, Fadila Afni, Aditiya Dwiantoro, dan Agriprinna Prima Rahmanto Putra.

Tiga dari delapan pebulutangkis tersebut diketahui telah mengoordinasikan dan mengatur orang lain agar terlibat. Mereka telah diskors dari semua kegiatan yang berhubungan dengan bulutangkis seumur hidup. Lima orang lainnya diskors antara 6 sampai 12 tahun dan denda masing-masing antara 3.000 dolar AS (Rp42,2 juta) dan 12.000 dolar AS (Rp168,9 juta).

Sesuai Prosedur Yudisial, kedelapan atlet itu memiliki hak untuk mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) dalam waktu 21 hari sejak pemberitahuan keputusan yang beralasan.

Sosok Agriprinna Prima Rahmanto Putra diketahui pernah menghuni Pelatnas Cipayung, tetapi akhirnya dicoret pada awal April 2014, atau sebelum dirinya tersangkut kasus match fixing yang terjadi pada 2015 sampai dengan 2017. Rentang 2011-2013, Agrippina pernah berpasangan dengan Marcus Fernaldi Gideon, yang kini menjadi ganda nomor satu dunia bersama Kevin Sanjaya Sukamuljo.

"PBSI mengutuk tindakan delapan pemain tersebut. Padahal di bulutangkis diajarkan nilai-nilai sportivitas, fairplay. Tetapi mereka telah mencederai nilai-nilai yang dijunjung tinggi di bulutangkis," kata Kepala Bidang Humas PBSI, Broto Happy Wondomisnowo, kepada Bola.com.

Broto Happy mengatakan PBSI telah menerima surat pemberitahuan secara resmi dari BWF terkait kasus delapan pebulutangkis itu. Ia juga mengatakan ketika kedelapan pemain itu melakukan tindakan yang mencederai sportivitas pada tahun 2015 hingga 2017, kedelapan pemain tersebut tidak berstatus sebagai pemain tim nasional penghuni Pelatnas Cipayung.

"Intinya delapan pemain itu tidak ada yang penghuni Pelatnas Cipayung PBSI saat ini. Saat itu ketika mereka melakukan pelanggaran itu pada 2019, mereka kapasitasnya bukan pemain pelatnas," ujar Broto Happy terkait kasus match fixing yang melibatkan 8 atlet bulutangkis Indonesia.