Video Amuk Massa Menewaskan Anggota TNI Beredar

Amuntai, Kalsel (ANTARA) - Rekaman video peristiwa amuk massa yang menewaskan anggota TNI Kodim 1001 Amuntai di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan yang terjadi awal Februari lalu, kini beredar di masyarakat.

Menurut Anggota Komisi I, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat, Ahmad Junaidi di Amuntai, ibu kota Hulu Sungai Utara (HSU), Selasa, hal tersebut sangat disayangkan karena dapat berdampak negatif di masyarakat.

"Pihak kepolisian dalam hal ini harus bergerak cepat untuk menghentikan penyebaran rekaman video tersebut dan mengamankan pelakunya," ujarnya.

Ia mengatakan, penyebaran rekaman video tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Republik Indonesia No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).


"Dimana pada Pasal 27 Ayat 2 Undang-Undang tersebut disebutkan larangan setiap orang untuk menyebarkan informasi elektronik yang bisa menimbulkan kebencian atau permusuhan dan SARA," katanya.

Sementara itu, Kepala Polisi Resort (Kapolres) HSU, AKBP Rudy Haryanto SiK yang dihubungi melalui sambungan telpon membenarkan bila saat ini rekaman video peristiwa tersebut telah beredar di masyarakat.

"Kami menghimbau kepada masyarakat agar segera menghapus rekaman video tersebut agar tidak menimbulkan kesalah pahaman dan untuk menjaga ketertiban serta keamanan," ujarnya.

Menurutnya, Polres HSU akan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait agar peredaran rekaman video tersebut dapat di hapus dan dihentikan.

"Secepatnya akan kita koordinasikan dengan pihak terkait agar peredaran rekaman video yang ada di internet seperti Youtube dapat di hapus dan dihentikan," katanya.

Polres HSU sendiri telah menetapkan delapan orang sebagai tersangka dalam peristiwa amuk massa tersebut yang dikenakan pasal pengeroyokan dan pembunuhan.

Juga telah ditetapkan seorang tersangka atas nama Essay Tranggiling yang di duga kuat sebagai pemicu terjadinya peristiwa tersebut.

Saat ini, semua para tersangka telah dipindahkan ke tahanan Polda Kalsel di Banjarmasin untuk menjalani proses hukum selanjutnya.(rr)




Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.