Video lama Bill Gates bahas vaksin Covid tak ada kaitannya dengan kasus gagal ginjal anak

Video lama Bill Gates berbicara tentang vaksin Covid-19 beredar di berbagai unggahan medsos yang secara salah mengaitkan ucapannya dengan gelombang kematian anak karena gagal ginjal akut di Indonesia. Unggahan-unggahan itu menyebarkan narasi salah bahwa filantropis miliarder itu meramalkan bahwa efek samping vaksin akan muncul dalam waktu dua tahun, dan karenanya, menyalahkan vaksin Covid-19 atas kasus kematian anak tersebut. Namun, dalam video wawancara, Gates sebenarnya menghimbau pihak berwenang untuk memberikan ijin vaksin Covid-19 dengan cepat, bukan "memprediksi" efek samping vaksin. Pemerintah RI mengaitkan kematian kasus gagal ginjal anak dengan obat sirup, bukan vaksin Covid-19.

Video miliarder Amerika Bill Gates sedang berbicara dalam sebuah wawancara TV pada bulan April 2020 telah diunggah di sini di Instagram pada tanggal 22 Oktober 2022, dan telah ditonton lebih dari 48.000 kali.

"Bill Gates Mengatakan Efek Samping V*K**N CV-19 Muncul Setelah Dua Tahun," demikian bunyi tulisan yang ditempelkan di bagian atas video.

Klip itu juga menyertakan tangkapan layar cuitan dari mantan dokter anti-vaksin Dr Lois Owen pada bulan Juni 2021, yang membagikan video wawancara Gates dan mengklaim bahwa vaksin Covid-19 akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, salah satunya gagal ginjal.

"Ketika yang beliau pernah katakan kini menjadi kenyataan," tulis sebagian keterangan unggahan Instagram itu.

Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 3 November 2022

Postingan tersebut dibagikan beberapa hari setelah Kementerian Kesehatan RI mengumumkan pada pertengahan Oktober 2022 lonjakan kematian anak akibat gangguan ginjal akut.

Kasus gagal ginjal akut, yang telah menyebabkan kematian hampir 200 orang anak sejak akhir Agustus 2022, mendorong pemerintah untuk melakukan penyelidikan dan melarang penjualan obat sirup terkait dengan kematian tersebut, seperti dilaporkan AFP pada tanggal 9 November 2022.

Kemenkes mengaitkan kasus gagal ginjal akut itu dengan zat berbahaya -- seperti etilen glikol dan dietilen glikol -- yang ditemukan dalam sejumlah obat sirup .

Tangkapan layar cuitan mendiang Dr Lois dan video wawancara Gates itu telah mendapat 2,300 Like setelah muncul di bulan Oktober 2022 dengan klaim serupa di berbagai platform medsos, misalnya di Instagram di sini dan di sini, di Facebook di sini, di TikTok di sini dan di Twitter di sini.

Namun, klaim itu salah.

Dalam video itu, Gates tidak mengatakan bahwa efek samping vaksin Covid-19 akan muncul setelah dua tahun.

Wawancara Bill Gates

Dalam video lengkapnya, yang ditayangkan di acara BBC Breakfast pada tanggal 12 April 2020, Gates menjelaskan bahwa menguji vaksin Covid-19 selama dua tahun untuk mempelajari efek sampingnya akan memperlambat peluncuran vaksin selama dua tahun.

Filantropis Amerika itu menjawab pertanyaan tentang dampak peluncuran vaksin Covid-19 yang cepat terhadap keamanan vaksin.

Presenter BBC Charlie Stayt bertanya: Seperti yang saya pahami, apa yang anda katakan adalah mungkin perlu ada kompromi dalam beberapa hal terkait keamanan, dari yang biasanya diharapkan dalam pembuatan vaksin, karena waktu sangat penting."

Gates menjawab: "Yah, tentu saja, jika anda ingin menunggu dan melihat apakah efek sampingnya muncul dua tahun kemudian, itu membutuhkan waktu dua tahun."

"Jadi, setiap kali anda bertindak cepat seperti selama krisis HIV, mereka menciptakan cara cepat untuk mendapatkan izin obat. Ada trade-off di sana. Dalam hal ini, itu bekerja dengan sangat, sangat baik."

Dialog tersebut bisa dilihat pada menit ke-8:23 dalam video wawancara itu.

Selain itu, Gates berbicara sebelum vaksinasi massal Covid-19 dimulai.

Inggris adalah negara Barat pertama yang memberikan izin vaksin Covid-19 untuk penggunaan umum pada tanggal 1 Desember 2020, saat pihak berwenang obat-obatan Inggris memberikan lampu hijau untuk suntikan Pfizer-BioNTech. Kampanye vaksinasi massal dimulai seminggu kemudian.

Sementara itu, hingga tanggal 14 November 2022, otoritas kesehatan RI belum mencatat adanya kematian akibat vaksinasi Covid-19.

Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Hindra Irawan Satari mengatakan kepada AFP pada tanggal 4 November 2022 bahwa pihaknya belum menemukan kasus kematian akibat suntikan vaksin Covid-19.

Komnas KIPI mengatakan pada bulan Juni 2022 mereka telah menerima 4.114 laporan "kejadian pasca-imunisasi" (KIPI) sejak dimulainya peluncuran vaksinasi di bulan Januari 2021. Namun, setelah diselidiki, ditemukan bahwa sebagian besar kejadian tersebut tidak disebabkan oleh vaksin Covid-19.

Pernyataan Kemenkes

Kementerian Kesehatan juga telah membantah klaim bahwa kasus gagal ginjal akut terkait dengan vaksin Covid-19.

Juru bicara Kemenkes dr. M. Syahri mengatakan dalam pernyataan tertanggal 18 Oktober 2022: "Sampai saat ini kejadian gagal ginjal akut tidak ada kaitannya dengan vaksin Covid 19 maupun infeksi COVID-19."

AFP sebelumnya membongkar berbagai klaim salah bahwa kasus gangguan ginjal akut disebabkan oleh vaksin Covid-19, baik yang diberikan kepada anak-anak, maupun kepada ibu hamil dan ibu menyusui.