VIDEO: Ratusan Petani Hadang Truk Muatan Pupuk Bersubsidi, Kenapa?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ratusan petani di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mengadang tiga truk pengangkut pupuk bersubsidi yang melintas di desanya. Warga yang sudah tersulut emosi, membongkar paksa truk pupuk di tepi jalan.

Pengadangan dipicu sulitnya mendapatkan pupuk di saat masa tanam. Sehingga para petani khawatir tanaman yang sudah ditanam akan mati. Berikut kita simak pemberitaannya pada Liputan6, 11 November 2020.

Sulit mendapatkan pupuk, ratusan petani di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, nekat mengadang tiga truk pengangkut pupuk bersubsidi yang melintas di desanya.

Para petani merasa khawatir, tanaman padi yang sudah ditanam akan mati, akibat kesulitan mendapatkan pupuk. Petani yang tersulut emosi, langsung membongkar paksa truk pupuk di tepi jalan. Sebagai protes agar pemerintah segera mencukupi kebutuhan pupuk di masa tanam saat ini.

Ariyanto, salah satu petani mengatakan, setiap musim tanam, pupuk bersubsidi selalu sulit didapat. Kalaupun ada, hanya tersedia 30 persen dari total kebutuhan para petani, di masa tanam. Sehingga para petani terpaksa membeli pupuk non subsidi yang harganya lebih mahal. Aksi pengadangan truk bermuatan pupuk tersebut merupakan puncak kekecewaan petani.

"Karena kita itu ndak ada sama sekali, di kios-kios ndak ada, kita mau beli, kebetulan lewat sini, kita hadang semua, kebutuhannya, kalau 1 hektar 10 paket,” kata Ariyanto, Petani Desa Jadi.

Sementara, pihak perwakilan distributor pupuk bersubsidi mengatakan, petani tetap mendapatkan jatah pupuk bersubsidi, namun pengirimannya bergantian, sesuai jadwal yang telah ditentukan.

"Karena kebutuhan pupuk saking besarnya itu, akhirnya orang agak khawatir kalau misalnya nanti ndak dapat pupuk, padahal ada jatahnya, ada aturan baru, kalau ingin membeli pupuk harus menggunakan kartu tani,” terang Asmain, Distributor Pupuk Bersubsidi.

Camat Semanding, bersama TNI-Polri menggelar mediasi, untuk meredam emosi petani. Meski sempat adu mulut, namun setelah petani mendapatkan jatah pupuk, mereka langsung membubarkan diri dengan tertib.

"Jadi ini tadi sudah disepakati, bahwa pupuk ini tetap dikirim ke tujuan semula, Kecamatan Grabagan, kemudian untuk yang di Desa Jadi ini, ini nanti dipastikan oleh distributor, dijanjikan tadi, akan dikirim 2 hari lagi, sehingga ini menjadi jalan keluar bagi masyarakat di Desa Jadi, yang saat ini menghadang pengiriman pupuk ke Grabagan, jadi ini sudah ada jalan keluar yang terbaik,” tegas Danarji, Camat Semanding.

Mencegah hal serupa tidak kembali terjadi, pihak keamanan meminta distributor pupuk, segera membuat jadwal pengiriman pupuk dan diinformasikan ke pihak kecamatan hingga desa. Sehingga para petani mengetahui, kapan jatah pupuk akan datang.