Video Streaming Naik Daun, Hooq Justru akan Tutup

Krisna Wicaksono, Novina Putri Bestari

VIVA – Salah satu layanan streaming video, Hooq akan menghentikan operasionalnya pada 30 April 2020. Informasi ini dikonfirmasi langsung oleh Country Head Hooq Indonesia, Guntur Siboro.

"Ya benar. Pemegang saham pada tanggal 27 Maret sudah memutuskan untuk likuidasi Hooq," kata Guntur kepada VIVA, Minggu 26 April 2020.

Akibat keputusan likuidasi ini, Hooq akan tutup di seluruh negara yang memiliki layanan tersebut. Selain Indonesia, Hooq juga terdapat di sejumlah negara Asia, yaitu India, Thailand, Fillipina, dan Singapura.

Imbas dari penutupan ini, juga akan berdampak pada karyawan perusahaan tersebut. "Karyawan tentunya akan berhenti juga," ungkapnya.

Baca juga: Facebook Latah Hadirkan Pesaing Zoom

Diberitakan sebelumnya, jika Hooq Digital melakukan likuidasi kreditor pada bulan lalu. Saat itu, diputuskan jika Singtel memiliki 76,5 persen kepemilikan efektif.

Didirikan lima tahun lalu, Hooq merupakan perusahaan yang didirikan Singtel, Sony Pictures Television dan Warner Bros Entertainment.

Menurut pihak Hooq, sejak awal perusahaan berdiri telah terjadi perubahan struktural yang signifikan dari pasar video over-the top atau OTT, serta lansekap kompetisinya. Salah satunya, ada kemauan pasar untuk membayar ketika pilihan layanan terus meningkat.

"Penyedia konten global dan lokal semakin terarah, harga konten terus tinggi, dan kemauan pasar untuk membayar semakin tinggi di tengah serangkaian pilihan yang terus meningkat," kata Hooq, dikutip dari Business Times.

Akibat perubahan itu, Hooq menambahkan jika model bisnis yang layak bagi platform OTT independen juga ikut berubah.