Video: Teror 20 detik di antara rudal dalam kecelakaan di Iran

Dubai, Uni Emirat Arab (AP) - Menteri luar negeri Iran pada Rabu (15/1) mengakui bahwa rakyat Iran "dibohongi" selama berhari-hari setelah Republik Islam itu secara tidak sengaja menembak jatuh sebuah pesawat jet Ukraina.
Pengakuan itu muncul saat rekaman gambar pengawas, yang memperlihatkan dua peluru kendali darat-ke-udara yang meluncur dalam rentang 20 detik, mencabik pesawat tersebut dan menewaskan seluruh 176 orang di dalamnya.

Penembakan penerbangan Ukraine International Airlines pekan lalu itu terjadi di tengah ketegangan yang meningkat antara Iran dan Amerika Serikat atas kesepakatan, yang gagal, menyangkut nuklir Iran. Presiden Iran Hassan Rouhani untuk pertama kalinya pada Rabu mengancam Eropa dengan memperingatkan bahwa tentara-tentara mereka di Timur Tengah "bisa berada dalam bahaya" karena krisis tersebut. Ancaman dikeluarkan pada saat Inggris, Prancis dan Jerman meluncurkan langkah yang memungkinkan Perserikatan Bangsa-Bangsa mempertimbangkan untuk menerapkan kembali serangkaian sanksi terhadap Iran. Insiden pesawat, serta bantahan Iran selama berhari-hari bahwa jet itu tertembak jatuh oleh rudal, telah menyulut kemarahan di negeri itu, yang sudah tersudut karena ekonominya harus bergelut menghadapi sanksi dari Amerika.

Ketegangan antara Washington dan Teheran mencapai puncaknya dua pekan lalu saat drone Amerika menghantam Baghdad hingga menewaskan komandan Garda Revolusi yang sangat berpengaruh, Jenderal Qassem Soleimani. Sang jenderal adalah sosok yang memimpin pasukan-pasukan proksi di luar negeri, termasuk yang dituduh melancarkan serangan bom tepi jalan terhadap pasukan AS di Irak.

Iran pada Rabu pagi pekan lalu membalas serangan drone itu dengan menembakkan rudal ke pangkalan-pangkalan Irak yang ditempati pasukan AS. Serangan rudal dilancarkan tak lama sebelum paramiliter Garda Revolusi Iran menembak jatuh pesawat Ukraina, yang lepas landas dari Bandara Internasional Imam Khomeini di Teheran.

Setelah itu, Iran selama beberapa hari bersikeras bahwa pesawat Boeing 737-800 yang berumur 3,5 tahun itu jatuh karena mengalami masalah teknis. Barulah setelah pemerintah negara-negara Barat, termasuk Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, menyatakan kecurigaan bahwa pesawat tersebut jatuh karena terkena tembakan, Iran mengakui bahwa pihaknya menembak pesawat itu.

Tidak mengakui sebelumnya bahwa pesawat tersebut jatuh ditembak "adalah perbaikan bagi keamanan negara kita, karena kalau kita mengatakannya, sistem pertahanan udara kita akan lumpuh dan orang-orang kita akan meragukan segalanya," kata Jenderal Amir Ali Hajizadeh, kepala program antariksa Garda, dalam rekaman televisi yang disiarkan pada Rabu.

Baru beberapa hari sebelumnya Hajizadeh meminta maaf melalui televisi negara dan mengatakan, "Saya berharap saya mati."

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, ketika berbicara pada pertemuan puncak di New Delhi, menjadi pejabat pertama yang menggambarkan bahwa klaim-klaim Iran sebelumnya merupakan kebohongan.

"Dalam beberapa malam terakhir ini, masyarakat di Teheran berdemonstrasi untuk menentang kenyataan bahwa mereka dibohongi selama beberapa hari," kata Zarif.

Zarif kemudian memuji militer Iran karena "cukup berani menyatakan bertanggung jawab sejak awal."

Namun, ia mengatakan dirinya dan Rouhani baru pada Jumat mengetahui bahwa penerbangan itu tertembak rudal. Pengakuan itu meningkatkan keraguan soal sekuat apa pemerintahan sipil Iran di dalam teokrasi Syiah yang berlaku di negara itu. Garda langsung tahu sesudah rudal itu menghantam pesawat tersebut.

Garda bertanggung jawab hanya kepada Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei, yang dijadwalkan akan memimpin shalat Jumat di Iran --untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun-- di tengah kemarahan soal pesawat jatuh.

Rekaman baru gambar pengawas yang didapat Associated Press memperlihatkan bahwa tembakan rudal itu tertangkap di monitor sebuah telepon seluler. Gambar itu tampaknya diambil di dekat Kota Bidkaneh, di sebelah barat laut Bandara Internasional Imam Khomeini di Teheran.

Rekaman gambar hitam-putih berdurasi dua menit itu konon memperlihatkan satu rudal melesat ke udara dan meledak di dekat pesawat itu. Sepuluh detik kemudian, satu rudal lainnya ditembakkan. Sekitar 20 detik setelah ledakan pertama, ledakan kedua terjadi di dekat pesawat. Gumpalan api kemudian jatuh dari langit di luar gambar.

Rekaman itu sejalan dengan pelaporan AP, yang tampak asli dan cocok dengan tanda-tanda geografis di daerah tersebut. Tanggal yang tertera di sudut kanan atas video tersebut tampak sama dengan kalender Persia Iran. Laporan itu juga menjelaskan betapa banyak orang yang merekam penembakan itu. Ledakan pertama memancing perhatian mereka, yang kemudian mengabadikan keadaan langit pada dini hari itu dengan telepon genggam.

Di tengah semua kejadian itu, Inggris, Prancis dan Jerman pada Selasa meluncurkan langkah yang disebut dengan "mekanisme sengketa" terkait perjanjian nuklir 2015, yang diteken Iran dan negara-negara kuat dunia. Iran sudah selama beberapa bulan ini melanggar batasan yang ditetapkan perjanjian itu sebagai balasan terhadap keputusan Presiden Donald Trump, yang secara sepihak menarik Amerika dari perjanjian tersebut pada Mei 2018.

Pascapembunuhan Soleimani, Iran mengumumkan pihaknya tidak akan lagi mematuhi batasan apa pun yang ditetapkan dalam kesepakatan nuklir itu, yang dirancang untuk menghadang Teheran memiliki cukup bahan untuk membuat bom atom, jika Iran menginginkannya.

Namun, Iran telah mengatakan masih akan mengizinkan badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memasuki situs-situs nuklirnya.

Ketika berbicara dalam sidang Kabinet, Rouhani memperlihatkan kemarahan yang begitu besar, yang jarang terjadi, saat menyampaikan pernyataan pada Rabu menyangkut berbagai masalah, termasuk ancaman terhadap Eropa.

"Hari ini, tentara Amerika ada dalam bahaya, besok tentara Eropa yang bisa ada dalam bahaya," kata Rouhani. "Kami menginginkan kalian meninggalkan kawasan ini, tapi tidak dengan jalan perang. Kami ingin kalian pergi secara bijaksana. Ini demi kebaikan kalian sendiri."

Rouhani tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Eropa telah menempatkan pasukannya bersama pasukan Amerika di Irak dan Afghanistan. Prancis juga memiliki pangkalan angkatan laut di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab, sementara Inggris telah membuka pangkalan di Bahrain.

Juru bicara Komisi Eropa Peter Stano mengatakan kepada para wartawan bahwa kalangan pejabat tahu soal ancaman itu, tapi Uni Eropa tidak berencana meninggalkan Irak. Menteri Pertahanan Italia Lorenzo Guerini mengatakan kepada parlemen bahwa pemerintahnya punya rencana untuk meningkatkan keberadaan pasukan Italia di Selat Hormuz, pintu kecil di Teluk Persia yang dilewati kapal-kapal pengangkut 20 persen minyak dunia.

Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer, sementara itu, melakukan kunjungan mendadak pada Rabu ke pangkalan Azraq di Yordania, tempat pasukan Jerman bertugas untuk memerangi kelompok ISIS. Jerman ingin melanjutkan misi pelatihan bagi pasukan Irak.

Rouhani juga menekankan janji lama yang dipegang Iran bahwa Teheran tidak berusaha membuat bom atom. Janji itu dinyatakan di tengah kekhawatiran Barat bahwa waktu yang dibutuhkan oleh Iran untuk mengumpulkan bahan pembuatan senjata nuklir semakin sempit. Berdasarkan perjanjian, para pakar memperkirakan Iran akan butuh satu tahun.

Sementara itu pada Rabu, media negara Iran mengatakan Duta Besar Inggris untuk Iran Robert Macaire telah meninggalkan Iran. Macaire pergi setelah mendapat catatan, yang disebut kantor berita negara IRNA sebagai "pemberitahuan." Kementerian Luar Negeri Inggris menekankan bahwa keberangkatan Macaire ke London merupakan perjalanan "rutin, biasa" dan sudah direncanakan sebelum ia ditangkap dan sempat ditahan di Teheran pada Sabtu. Macaire ditangkap setelah ia menghadiri acara mengenang korban pesawat jatuh. Acara itu kemudian berubah menjadi protes antipemerintah. Inggris mengatakan sang duta besar akan kembali ke Iran.

------

Schmall melaporkan dari New Delhi. Para penulis Associated Press Nadia Ahmed dan Jill Lawless di London, Yuras Karmanau di Kyiv, Ukraina, Lorne Cook di Brussel, Geir Moulson di Berlin dan Frances D\'Emilio di Roma berkontribusi untuk laporan ini