Vietnam Gelar Pemilu Parlemen di Tengah Wabah Baru COVID-19

·Bacaan 2 menit

VIVA – Warga Vietnam yang mengenakan masker pergi ke tempat pemungutan suara pada Minggu, dengan puluhan juta orang diperkirakan akan memilih anggota legislatif di tengah penyebaran wabah COVID-19 yang cepat.

Lebih sedikit kandidat independen daripada sebelumnya mencalonkan diri dalam pemilihan untuk Majelis Nasional dengan 500 kursi, yang diadakan setiap lima tahun dan biasanya setelah Partai Komunis yang berkuasa mengadakan kongres untuk memilih kepemimpinan baru.

Terlepas dari meningkatnya keterbukaan terhadap perubahan sosial di negara Asia Tenggara itu dan banyaknya kesepakatan perdagangan bebas, Partai Komunis - salah satu partai komunis terakhir yang berkuasa di dunia - mempertahankan kendali ketat atas Vietnam dan medianya, dan menoleransi sedikit perbedaan pendapat.

Hampir 69,2 juta pemilih terdaftar juga akan memilih anggota dewan di tingkat provinsi dan kabupaten.

"Saya berharap semua pemilih, mengetahui peran mereka sebagai pemilik negara, akan bergabung dalam pemungutan suara untuk memilih kandidat yang paling tepercaya dan layak untuk mewakili suara mereka," kata ketua Majelis Nasional Vuong Dinh Hue menjelang pemilihan.

Sekitar 92% calon Majelis Nasional adalah anggota Partai Komunis, yang pada dasarnya juga memeriksa calon independen.

Jumlah calon yang bukan anggota partai turun tahun ini menjadi 74 dari 97 pada pemilihan sebelumnya pada 2016. Media lokal mengatakan jumlah wakil majelis yang bukan anggota partai berkurang setengahnya selama tiga pemilihan terakhir.

Data resmi menunjukkan bahwa 99% dari 67,5 juta pemilih terdaftar di Vietnam berpartisipasi dalam pemilu 2016. Surat suara itu anonim, tetapi nama, usia, pekerjaan, etnis, dan alamat setiap pemilih dipasang di luar pusat pemungutan suara.

Pemilihan berlangsung saat Vietnam memerangi wabah baru COVID-19 yang menyebar dengan cepat, menginfeksi 2.066 orang sejak muncul pada akhir April.

Di distrik Long Bien Hanoi, sekitar 30 pemilih terlihat mengantre di bilik suara menunggu giliran, semuanya mengenakan masker.

Sebelum antre, para pemilih diukur suhu tubuhnya di meja terdekat di mana masker gratis dan pembersih tangan ditawarkan, dengan pengeras suara yang menyiarkan nasihat untuk menjaga jarak yang aman.

"Saya memilih hari ini karena itu tanggung jawab saya," kata seorang pemilih lanjut usia yang tidak ingin disebutkan namanya.

Hue mengatakan pemungutan suara Minggu adalah yang pertama "di tengah wabah virus corona paling berbahaya yang telah menyebar ke hampir setengah dari jumlah provinsi, dengan banyak di antaranya diisolasi."

Dia mengatakan penyelenggara telah mengambil tindakan untuk memastikan pemilihan akan berlangsung dengan aman. Hasil pemilu biasanya diumumkan setelah sekitar dua minggu. (Ant)

Baca juga: COVID-19 di Taiwan Menggila, 1.889 Kasus Baru Dalam 11 Hari

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel