Viral Anggota DPRD Garut Mengamuk dan Banting Mikrofon di Ruang Rapat

Merdeka.com - Merdeka.com - Sebuah video merekam aksi ngamuknya seseorang yang diduga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Garut di sebuah ruang rapat tengah menyebar di media sosial. Dalam aksinya, sang anggota DPRD itu sempat membanting alat pengeras suara ke atas meja untuk meluapkan kemarahannya itu.

Aksinya terhenti setelah sejumlah orang yang nampak masuk ke dalam ruangan rapat mencoba menenangkannya. Oleh mereka, ia pun kemudian dibawa keluar ruangan.

Dalam video yang beredar, di dalam ruang rapat itu diketahui dihadiri oleh sejumlah orang, salah satunya Ketua DPRD Garut, Euis Ida Wartiah. Hadir juga sejumlah pimpinan dan staf Sekretariat Dewan (Setwan) Garut.

Setelah dilakukan penelusuran, anggota DPRD yang mengamuk itu diketahui anggota DPRD Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Juju Hartati. Saat dikonfirmasi wartawan terkait video tersebut, dia yang merupakan anggota Komisi 2 DPRD Garut membenarkan bahwa sosok yang mengamuk itu adalah dirinya.

Dia mengatakan bahwa dirinya memang mengamuk di salah satu ruangan yang ada di gedung DPRD Garut. Alasannya, dia kesal kepada Ketua DPRD Garut, Euis Ida Wartiah karena dinilai tidak aspiratif dan tidak menghargai orang lain.

Juju bercerita bahwa selaku Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda), saat rapat dirinya menyampaikan laporan terhadap Ketua DPRD Garut. Laporan tersebut kaitannya tentang Peraturan Daerah (Perda) apa saja yang akan diselesaikan di tahun 2022 ini.

Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan bahwa Perda yang akan diselesaikan ada tiga. "Mulai Perda tentang Pesantren, Perda tentang Nama Jalan, dan Perda tentang Pelestarian Domba Garut," kata Juju, Senin (25/7).

Saat membahas Perda tentang Pelestarian Domba Garut, diungkapkan Juju, Ketua DPRD Garut seakan tidak mau menerima dan langsung memotong pembicaraannya. Saat itu juga, Ketua DPRD Garut menyebut bahwa Perda tersebut tidak penting.

Dia menilai sikap tersebut membuatnya cukup kesal, apalagi ketiga Perda tersebut adalah aspirasi masyarakat dan tengah dibuat naskah akademiknya menggunakan anggaran masing-masing-masing Rp50 juta.

"Tapi kenapa tiba-tiba mau dipatahkan oleh Ketua Dewan, ini kan penghamburan anggaran," ucapnya.

Dalam kesempatan itu juga, selain menyebut Perda itu tidak penting, Ketua DPRD Garut juga lebih memilih untuk membahas rencana perjalanan ke Bali.

"Pokoknya saya akan terus konsisten memperjuangkan aspirasi rakyat, apalagi naskah akademiknya sedang dibuat. Pasti saya ngamuk karena kecewa dan menyayangkan sikap ketua dewan yang seenaknya dan tidak menghargai aspirasi rakyat," tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari unsur pimpinan DPRD Garut. Setwan Garut, Dedi pun menolak memberikan tanggapan terkait kejadian tersebut. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel