Viral Cerita Dibalik Gugurnya Dokter Melawan COVID-19

Lutfi Dwi Puji Astuti, Ahmad Farhan Faris

VIVA – Sejumlah dokter dan tenaga medis sudah banyak yang meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona COVID-19 di Indonesia. Namun, beredar cerita sedih di balik gugurnya dokter yang menjadi pahlawan terdepan dalam penanganan COVID-19.

Cerita itu dituliskan oleh dokter RS Dr. Soetomo Surabaya, dokter Ari Baskoro yang kemudian diunggah akun Twitter @chyaRR pada 10 Juni 2020. Cuitan itu disukai dan diretweets sekitar 1.000 akun.

Dalam tulisan tersebut, Ari menyampaikan duka cita mengiringi gugurnya sejawat dokter yang telah mengabdikan diri untuk raga yang lain. Hari ini rekan kerja terbaik, murid yang penuh pengabdian, almarhum dr. Miftah Fawzy Sarengat telah melepaskan segala tugas dan kewajibannya yang tidak akan pernah diemban lagi sebagai insan mulia.

Lagi-lagi, COVID-19 yang telah merenggut nyawanya. Istrinya pun sebagai rekan seprofesi, saat ini harus berjuang keras melawan penyakit yang sama. Kejadian yang menimpa tenaga medis sebagai garda terdepan mitigasi pandemi COVID-19, berulang dan berulang lagi. Sampai kapankah kami sebagai tenaga medis harus bersiap diri, berjuang tanpa lelah demi rasa kemanusiaan?

COVID-19 memang fenomenal. Segala usaha dan upaya untuk membendung laju penularan melalui pembatasan sosial berskala besar (PSBB), serta pola hidup bersih dan sehat (PHBS) belum menampakkan hasil yang signifikan. Bahkan, laporan angka penularan seakan sulit terhenti.

Saat ini, telah dicanangkan oleh pemerintah untuk masa transisi menyongsong tatanan kehidupan yang baru. Fase new normal yang lebih dikenal oleh telinga masyarakat, sebenarnya lebih tepat disebut dengan norma-norma yang baru. Perubahan kebiasaan yang telah mengakar lama walaupun bertujuan baik, tidak selalu mendapatkan respon yang positif dari masyarakat.

Norma-norma baru yang sekarang diharuskan menggunakan masker, sebagai sarana pencegahan penularan COVID-19. Walaupun sudah didukung melalui Peraturan Gubernur lengkap dengan segala sanksinya, kadang kala dianggap angin lalu saja oleh sebagian masyarakat.

"Bagaimana dengan kebiasaan harus sering mencuci tangan? Mungki setali tiga uang. Tak mudah memang untuk menghadapi norma-norma baru ini. Lalu, apa konsekuensi yang bakal kita hadapi? Bisa dipastikan laju penularan virus akan tetap berlangsung, semua fasilitas kesehatan khususnya perawatan kasus COVID-19 di rumah sakit akan selalu penuh," tulis Ari.

Tenaga kesehatan, mau tidak mau harus tetap mempersiapkan diri menyambut aliran pasien COVID-19 yang mungkin akan tetap meluber. Bisa diprediksi, tenaga kesehatan harus merelakan diri dengan segenap perhatian dan tenaganya untuk tetap berjuang sampai titik darah penghabisan, seperti halnya sejawat dan peserta didik kami almarhum dr. Miftah Fawzy Sarengat.

“Tulisan ini sebagai penghargaan sekaligus kewaspadaan bagi tenaga kesehatan, khususnya dokter. Karena teman sejawat kami yang juga murid kami, sebagai peserta didik PPDS (program pendidikan dokter spesialis) penyakit dalam telah wafat karena menderita COVID-19. Kami sebagai garda terdepan mitigasi COVID-19, mendapat laporan bahwa beberapa sejawat dokter sedang dirawat berjuang melawan COVID-19.”