Virgil van Dijk tak mau butakan diri dari nasib pekerja migran

Kapten Belanda Virgil van Dijk mengatakan pemain "tidak buta atau tuli" terhadap kekhawatiran mengenai perlakuan kepada pekerja migran yang menjadi sorotan menjelang Piala Dunia di Qatar.

Van Dijk dan anggota skuad lainnya bertemu dengan sekitar 20 pekerja pada akhir sesi latihan Kamis di Doha dengan memberikan tanda tangan dan bermain sepak bola dengan mereka.

"Itu adalah hal yang kita semua inginkan sebagai sebuah kelompok. Itulah mengapa kami memulai proses ini dan senang bertemu dengan mereka serta agak mengenal mereka," kata kapten timns Belanda itu seperti dikutip AFP.

"Anda tak punya waktu banyak tetapi Anda melewatkan percakapan kecil dan itu memberikan energi kepada kami karena mereka sangat positif untuk bertemu dengan kami. Persis sama dengan kami."

Piala Dunia Qatar didominasi oleh kekhawatiran atas perlakuan negara Teluk itu terhadap kaum migran, perempuan, dan komunitas LGBTQ.

Kelompok HAM dan media menyebutkan ribuan pekerja mungkin tewas di lokasi-lokasi pembangunan infrastruktur. Pemerintah menyebut klaim itu "keterlaluan dan ofensif", dan mengatakan sedang mempertimbangkan langkah "hukum" demi mempertahankan martabat negara itu.

Baca juga: Qatar bantah tuduhan eksploitasi pekerja migran untuk Piala Dunia 2022

"Jelas kami tidak buta, kami tidak tuli," kata Van Dijk.

"Kami melihat semua outlet berita mengatakan begitu banyak hal terjadi di sini, jadi bagi kami ada baiknya untuk mengutarakan pendapat sendiri."

"Kita harus tergantung kepada diri kita sendiri dan bertemu orang-orang. Memang tak mudah karena pada akhirnya ini semua tentang bermain sepak bola. Bagi kami itu hal besar dan poin besar untuk bertemu dengan mereka."

Federasi sepak bola Belanda berencana melelang kaus yang akan dikenakan tim dalam Piala Dunia ini yang hasilnya hasilnya akan disalurkan "untuk memperbaiki situasi pekerja migran di Qatar".

Baca juga: CEO Piala Dunia Qatar ingin bertemu Southgate bahas kekhawatiran HAM
Baca juga: Belanda akan ikuti Jerman protes HAM di Qatar