Virus Corona Baru, KBRI London Ungkap Kasus WNI di Inggris

Daurina Lestari, Dinia Adrianjara
·Bacaan 2 menit

VIVA – Langkah pengetatan yang diberlakukan pemerintah Inggris akibat penyebaran varian baru COVID-19, turut berdampak bagi warga negara Indonesia yang tinggal di Inggris. Diperkirakan sekitar 2.300 WNI tinggal di wilayah yang terdampak kebijakan pengetatan tersebut.

Duta Besar RI untuk Inggris, Desra Percaya, memastikan kondisi warga negara Indonesia di Inggris dalam keadaan sehat dan hanya sedikit yang terpapar virus corona COVID-19.

"Secara umum WNI Indonesia di UK dalam keadaan sehat dan jumlah kasus korban terpapar sangat minor, yaitu tiga kasus positif. Dibandingkan dengan total kasus di UK dan jumlah keseluruhan warga yaitu 8.815 orang, kasus yang menimpa WNI tidak banyak," kata Desra kepada VIVA, Senin 21 Desember 2020.

Untuk memfasilitasi dan memberikan pelayanan kepada WNI, Kedutaan Besar RI di London telah membuka layanan hotline COVID-19 yang bekerja sama dengan tim dokter PPI United Kingdom. Selain itu, KBRI London melakukan layanan konsuler terbatas pada warga, yang telah membuat janji sebelumnya.

"Meningkatkan komunikasi publik kepada WNI untuk mengomunikasikan perkembangan kebijakan agar warga mematuhi ketentuan dan menjaga kesehatan," ungkap Desra.

Baca juga: Muncul Corona Baru, Sejumlah Negara Larang Perjalanan ke Inggris

KBRI London pun menyerukan kepada WNI untuk mematuhi protokol dan aturan yang diberlakukan oleh pemerintah setempat. Imbauan ini disampaikan dalam pertemuan virtual dengan masyarakat, serta melalui berbagai platform media sosial.

Pada 19 Desember lalu, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson telah mengeluarkan pengetatan Tier-4 untuk London, South-East, dan East, yang efektif berlaku 20-30 Desember 2020.

Pengetatan ini berarti warga diwajibkan untuk beraktivitas dari rumah, serta penutupan tempat-tempat nonesensial seperti pertokoan, salon, gym, dan tempat hiburan indoor. Secara khusus warga tidak boleh masuk dan keluar dari wilayah yang ditetapkan dalam Tier-4 tersebut.

Untuk diketahui, varian baru COVID-19 yang diberi nama VUI-202012/01 (Variant Under Investigation in December 2020), diperkirakan pertama kali terjadi pada pertengahan September di tenggara Inggris, di ibu kota London atau wilayah Kent.

Inggris lalu menyerahkan temuannya ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari yang sama. Sejak itu, varian baru tersebut menyebar cepat di tenggara Inggris, menjadi bentuk virus yang dominan di sana.

Di London, 62 persen kasus disebabkan oleh varian baru pada Minggu 9 Desember lalu. Dibandingkan dengan 28 persen tiga pekan sebelumnya. (art)