Virus Corona Bisa Berpindah Hingga 6 Meter

Adinda Permatasari

VIVA – Hingga kini kita sudah sangat memahami bahwa cara terbaik untuk menghindari penularan COVID-19 adalah dengan menjaga jarak. Menurut beberapa studi terdahulu, dua orang harus menjaga jarak setidaknya 1,5-2 meter. Tapi, penelitian terbaru menemukan sesuatu yang berbeda.

Dilansir laman Times of India, para ilmuwan menguji penyebaran droplet menular dari batuk, bersn dan bernapas di bawah kondisi atmosfir yang berbeda. Para peneliti menemukan bahwa virus corona jenis baru bisa menyebar hingga tiga kali lebih jauh dalam cuaca dingin dan lembap.

Menurut para peneliti dari University of California Santa Barbara di Amerika Serikat, droplets atau percikan air yang membawa virus bisa berpindah hingga sekitar enam meter. Sehingga ini membuat jarak social distancing yang dianjurkan saat ini tidaklah cukup untuk membatasi penyebaran virus corona.

Menurut penelitian yang sama, 40.000 droplets pernapasan bisa tercipta dari batuk, bersin dan bahkan saat berbicara normal. Kecepatan perpindahannya pun berkisar dari beberapa meter per detik hingga lebih dari ratusan meter per detik.

Sementara droplets yang besar biasanya hinggap ke permukaan dalam jarak yang terbatas disebabkan oleh gravitasi. Sedangkan droplets yang lebih kecil menguap cepat untuk membentuk partikel aerosol yang bisa melayang di udara selama beberapa jam dan membawa virus.

Menurut analisis, efek dari cuaca dalam jejak ini tidak sama setiap waktu. Suhu rendang dan kelembapan yang tinggi memfasilitasi penyebaran droplet, sedangkan kelembapan rendah dan suhu tinggi membuat pembentukan partikel aerosol yang kecil.

"Model kami menunjukkan bahwa jarak 2 meter dari social distancing yang direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) tidak cukup dalam kondisi lingkungan tertentu, karena jarak penyebaran droplet bisa sejauh 6 meter dalam cuaca dingin dan lembap," tulis para peneliti dalam studi.

Seperti yang sudah dikatakan oleh banyak studi, peneliti memperingatkan bahwa pandemi COVID-19 tidak akan berhenti di musim panar tanpa intervensi karena ada peningkatan peluang penyebaran aerosol di bagian dunia ini. Sementara di cuaca yang panas dan kering, droplet pernapasan bisa lebih mudah menguap menjadi partikel aerosol yang mampu berpindah hingga jarak yang panjang.

Partikel yang kecil itu bisa masuk jauh ke dalam paru-paru dan memiliki waktu penangguhan yang lebih lama di kondisi seperti ini.