Virus corona membuat teh hadapi masalah, ganggu pasokan saat permintaan melonjak

Oleh Rajendra Jadhav dan Polina Devitt

MUMBAI/MOSCOW (Reuters) - Wabah virus corona menyebabkan kegemparan yang jarang terjadi di pasar teh global yang biasanya tenang di mana lockdown tenaga kerja mengganggu pasokan ketika jutaan orang yang terkena lockdown menaikkan permintaan untuk minuman yang dikenal karena sifat-sifatnya yang meningkatkan kekebalan tubuh ini.

Lima negara -China, India, Kenya, Sri Lanka, dan Vietnam- menyumbangkan 82 persen dari total ekspor teh dunia, namun pembatasan pergerakan yang ketat guna membendung pandemi virus corona telah mengganggu musim petik daun teh penting sehingga menunda pengiriman sampai sekitar sebulan dan memicu melonjaknya harga.

Lebih sedikitnya pemetik teh berbarengan dengan suhu yang lebih dingin dari biasanya pada bulan lalu diperkirakan bakal memangkas produksi teh tahun ini di China yang merupakan negara produsen terbesar teh, sedangkan produksi di negara penghasil teh nomor dua dunia India dan Sri Lanka juga telah dipengaruhi oleh masalah tenaga kerja dan cuaca.

Produksi India kemungkinan turun sebesar 120 juta kg atau 9 persen pada 2020 karena lockdown yang pada awalnya memaksa perkebunan menangguhkan pemetikan selama panen pembuka yang merupakan pemetikan pucuk pertama yang berharga, dan kemudian bekerja dengan sekitar separuh tenaga kerja, kata Prabhat Bezboruah, ketua Dewan Teh India.

Komite Teh Internasional (ITC) memperkirakan ekspor India pada 2020 bakal turun 7 persen.

Pada Maret, ekspor dari India merosot 34 persen dan hampir separuhnya dari Sri Lanka, kata Kementerian Perdagangan India dan pialang teh.

Titik terang adalah Kenya, eksportir top dunia, yang cuma sedikit mengalami gangguan panen sejak Maret dan, menurut ITC, mungkin tahun ini mengalami kenaikan produksi domestik sebesar 15 persen.

Output Vietnam juga diperkirakan pada umumnya tidak terpengaruh, tetapi negeri ini cuma pemain yang relatif lebih kecil.

Namun, para importir sudah mulai merasakan kesulitan di tengah berkurangnya pasokan dari Asia Selatan.

"Pengiriman dari India sudah tertunda rata-rata satu bulan, dan kami juga mengalami keterlambatan pasokan teh dari negara lain, khususnya Sri Lanka," kata Orimi Trade, produsen teh terkemuka Rusia.

Harga teh mentah yang diimpor Rusia melonjak 30 persen dari tingkat sebelum lockdown.

Perkebunan-perkebunan teh kesulitan mengumpulkan panen petik pertama di Darjeeling Hills yang dikenal sebagai teh termahal di dunia ketika India memerintahkan 1,3 miliar penduduknya tetap di dalam ruangan sampai 3 Mei sehingga sistem kesehatan masyarakatnya yang sederhana tidak runtuh oleh beratnya infeksi yang sudah melewati angka 31.000 orang.

Produksi dari pemetikan kedua diperkirakan turun lebih dari 10 persen dan pemetikan-pemetikan selanjutnya tidak akan menutupi kerugian tersebut, kata Kaushik Basu, sekretaris Asosiasi Teh Darjeeling.

Di India, pemetikan pucuk pertama biasanya dimulai Maret, sedangkan pemetikan pucuk kedua dimulai Mei.

Kelangkaan truk pengangkut di tengah larangan melakukan perjalanan juga menunda perpindahan ke pelelangan dan pelabuhan, kata Nazrana Ahmed, ketua Asosiasi Petani Teh Assam (ATPA).

"Sangat sedikit truk yang tersedia, dan mereka perlu waktu satu pekan dari biasanya tiga hari untuk mengangkut teh" ke Kolkata di India timur dari Assam di bagian timur laut negara itu, tambah dia.

Kurangnya pekerja juga mengartikan semak tumbuh lebih rimbun yang kemudian mengganggu potensi panen, kata pemilik kebun teh Rajib Barooah.

Masalah-masalah ini sudah menciptakan kelangkaan pasokan baru dan mengangkat harga panen musim lalu ke tingkat harga yang langka terjadi, kata Kalyan Sundaram, sekretaris Asosiasi Pedagang Teh Calcutta.

Pada lelang baru-baru ini, pembeli membayar sepertiga lebih mahal dari lelang sebelumnya di Assam, negara bagian penghasil utama teh di India, kata dia, yang mengindikasikan adanya permintaan yang kuat.

Di Sri Lanka, produksi teh turun hampir seperempatnya karena kekeringan sebelumnya, dan kini virus corona mempengaruhi ekspor, kata Jayampathy Molligoda, ketua Dewan Teh Sri Lanka.

Turki, konsumen teh per kapita teratas di dunia, biasanya swasembada dalam produksi namun menghadapi kelangkaan tenaga kerjanya sendiri.

Produsen-produsen lokal mengatakan bahwa mereka biasanya mengandalkan pekerja migran dari daerah-daerah seperti Georgia dan Azerbaijan, tetapi tahun ini mereka harus menggunakan penduduk setempat yang tidak berpengalaman yang bisa mengurangi pasokan.


MENINGKATKAN KEKEBALAN

Pasokan yang macet terjadi tepat ketika permintaan global untuk makanan dan minuman naik setelah pandemi mengurung manusia di dalam ruangan.

Juga, minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia setelah air itu muncul sebagai pilihan yang disukai banyak orang mengingat kandungan kafeinnya yang rendah dan manfaat kesehatan lainnya.

"Permintaan teh lebih tinggi dibandingkan dulu... teh di Rusia memiliki citra tentang sesuatu yang, jika dicampur dengan lemon, meningkatkan sistem kekebalan," kata Ramaz Chanturiya, di lobi Rusteacoffee. Rusia, yang telah melaporkan lebih dari 93.000 kasus virus corona dan lebih dari 800 kematian, adalah importir teh utama.

Katanya para peserta industri dan ITC tidak mengharapkan bertahannya tren teh panas dalam jangka panjang karena negara-negara eksportir utama menghadapi kelebihan pasokan pada 2019, meskipun keseimbangan permintaan dan pasokan mungkin bakal terganggu dalam jangka pendek.

"Harga teh tertekan dalam beberapa tahun terakhir. Gangguan pasokan saat ini bisa memberikan dukungan yang sangat dibutuhkan," kata Ahmed dari ATPA.



(Laporan Rajendra Jadhav dan Polina Devitt; Laporan tambahan oleh Ezgi Erkoyun di ISTANBUL dan Waruna Karunatilake di COLOMBO; Disunting oleh Himani Sarkar)