Virus Corona Muncul akibat Eksploitasi Alam Besar-besaran oleh Manusia

Lazuardhi Utama, BBC Indonesia

 

Virus corona diduga berasal dari kelelawar, dengan hewan liar lainnya, kemungkinan trenggiling (pangolin), yang berperan dalam penularan kepada manusia.

Eksploitasi alam besar-besaran yang dilakukan manusia selama ini mendorong munculnya sejumlah wabah penyakit baru. Salah satunya Virus Corona COVID-19. Tentu, hal ini sekadar isapan jempol.

Ada bukti baru yang bisa menjelaskan hubungan antara eksploitasi manusia terhadap alam dan pandemi. Kontak dekat dengan hewan liar melalui perburuan, perdagangan, atau hilangnya habitat menempatkan dunia pada peningkatan risiko wabah penyakit baru, kata para ilmuwan.

Seperti diketahui, Virus Corona diduga berasal dari kelelawar, dengan hewan liar lainnya, kemungkinan trenggiling (pangolin), yang berperan dalam penularan kepada manusia. Ada indikasi kuat antara keberadaan satwa liar dan kaitannya dengan perdagangan.

Dalam studi terbaru, para peneliti menghimpun makalah ilmiah tentang penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia, kemudian menggabungkan data ini dengan informasi perihal risiko kepunahan yang disusun International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Ribuan gading ilegal di Malaysia siap untuk dimusnahkan.

Hewan liar yang berisiko mengalami kepunahan karena eksploitasi manusia diketahui membawa dua kali lebih banyak virus yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.

Risiko terinfeksi virus juga datang dari spesies hewan liar yang terancam punah karena alasan lainnya. Hal yang sama berlaku untuk spesies hewan yang berisiko punah karena hilangnya habitat.

"Ketika habitat alaminya berkurang, satwa liar semakin dekat dengan manusia," kata Dr Christine Johnson dari University of California, AS, kepada BBC News.

"Kehidupan satwa liar juga bergeser untuk mengakomodasi kegiatan manusia (anthropogenic) dan modifikasi bentang alam. Ini mempercepat timbulnya penyakit dari satwa liar, yang menempatkan kita pada risiko pandemi karena kita semua terhubung secara global melalui perjalanan dan perdagangan," paparnya.

Jalan tanah dibangun membelah hutan hujan.

Hewan liar yang hampir punah jumlahnya sedikit dan umumnya berisiko rendah menularkan penyakit menular, kata Dr Johnson, kecuali jika eksploitasi manusia dan hilangnya habitat menempatkan mereka dalam kontak dekat dengan manusia.

"Eksploitasi satwa liar, yang telah menyebabkan satwa liar yang dulunya berlimpah menurun jumlahnya, melalui perburuan dan perdagangan satwa liar, telah membahayakan kelangsungan hidup spesies dan juga menempatkan manusia pada risiko munculnya penyakit menular," katanya.

Para ilmuwan telah lama memberi perhatian pada penyakit manusia yang berasal dari hewan, termasuk SARS, MERS, dan Ebola.

Setelah virus corona, ada kesadaran yang berkembang bahwa kesehatan manusia terkait dengan kesehatan hewan dan kesehatan Bumi secara keseluruhan.

Unjuk rasa menolak pembalakan hutan di Jakarta.

Sejumlah besar organisasi menyerukan pembatasan perdagangan hewan liar untuk mengurangi risiko terhadap kesehatan manusia.

Dr Johnson mengatakan hewan liar yang dijual di pasar yang sibuk di mana hewan dan manusia bercampur memberi peluang bagi penyakit untuk berpindah antar spesies yang biasanya tidak akan pernah menyatu di dunia alami.

"Kemunculan penyakit yang terjadi di mana saja dapat mempengaruhi kita semua dan kita semua harus memahami dampak yang kita alami ketika kita berinteraksi dengan satwa liar, menyadari bahwa munculnya penyakit adalah masalah lingkungan, dan menemukan cara yang lebih berkelanjutan untuk hidup berdampingan."

Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Royal Society Proceedings B.