Virus COVID-19 Bisa Dideteksi Lewat Batuk

Krisna Wicaksono, Novina Putri Bestari
·Bacaan 1 menit

VIVA – Sejumlah peneliti mengembangkan kecerdasan buatan sebagai cara mendeteksi COVID-19. Artificial Intelligence itu disiapkan, untuk membedakan suara batuk seseorang yang terinfeksi dan tidak.

AI ini dikembangkan oleh tim peneliti di MIT Amerika Serikat, dan sedang dalam tahap uji coba. Mereka juga meminta persetujuan dari Food and Drugs Administration, untuk menjadikan alat tersebut sebagai pendeteksi resmi, dikutip dari laman Live Science, Rabu 4 November 2020.

Algortima dari sistem dibanding berdasar model sebelumnya untuk mendeteksi penyakit radang paru-paru, asma hingga alzheimer. Penyakit terakhir merupakan kondisi kehilangan memori yang juga menyebabkan menurunkan kualitas pita suara dan kerja pernapasan.

"Suara berbicara dan batuk dipengaruhi oleh pita suara dan organ sekitarnya," kata salah satu peneliti, Brian Subirana.

Dia menyebutkan, ada kesan sentimental pada batuk. Selain penyakit, AI menilai suara batuk untuk menentukan jenis kelam, bahasa, dan keadaan emosional seseorang.

Alat ini dikerjakan dengan membuat situs yang mengajak sukarelawan sehat dan terkena COVID-19 untuk merekam batuknya. Peserta survei juga diajukan pertanyaan soal diagnosa dan gejala apa yang dialami.

Mereka diminta melakukan batuk paksa, suara yang dikeluarkan saat diminta dokter sambil menggunakan stetoskop pada daerah dada.

Tim peneliti berhasil mengumpulkan lebih dari 70 ribu rekaman. Sekitar 2.660 berasal dari pasien dengan atau tanpa gejala.

Dari jumlah itu, 4.256 sampel digunakan untuk melatih AI dan 1.064 sebagai cara menguji, apakah dapat membedakan suara batuk orang sehat dan terkena pandemi.

Hasilnya kecerdasan buatan mampu mengenali 98,5 persen pasien positif, dan tingkat akurasi untuk orang sehat mencapai 94,2 persen.

Baca juga: Klaim Kemenangan Trump Diberi Tanda Menyesatkan