Virus serang perokonomian global saat kematian di Eropa dan AS menggunung

Paris (AFP) - Para pakar memperingatkan, pandemi virus corona tengah menghantam ekonomi utama dunia dan bisa berubah menjadi resesi global terdalam dalam beberapa generasi, saat bersamaan tingkat kematian akibat virus ini meroket di Eropa dan AS.

Ketika Wuhan, kota di China tempat asal mula virus itu , merayakan pembebasannya dari lockdown hampir 11 pekan, kebanyakan negara Barat tetap berada dalam pergolakan darurat kesehatan yang telah menewaskan lebih dari 80.000 orang di seluruh dunia.

Berbagai pemerintah bergulat dengan bagaimana menyeimbangkan keselamatan masyarakat dengan dampak buruk lockdown yang telah menutup seluruh sektor perekonomian dan menghapus jutaan pekerjaan dalam hitungan pekan.

Pada saat krisis ekonomi mulai menggigit, para pakar kesehatan menekankan bahwa setiap pelonggaran pembatasan yang terlalu dini bisa mempercepat penyebaran penyakit yang telah menyusup ke hampir semua negara dan masyarakat, dari pengungsi sampai bangsawan.

Di AS dan Eropa, jumlah korban jiwa yang besar menunjukkan bahwa negara-negara yang paling terpukul jauh dari bisa meniru pembalikan yang terjadi di Wuhan.

Italia, Spanyol dan Prancis adalah yang negara terparah di benua itu meskipun situasinya juga memburuk di Inggris yang mencatat rekor 938 kematian pada Rabu ketika Perdana Menteri Boris Johnson menghabiskan hari ketiga dalam perawatan intensif.

Kondisi pemimpin berusia 55 tahun itu "membaik" dan dia sudah bersemangat, para pejabat meyakinkan masyarakat.

Sementara itu, AS mencatat tonggak baru yang mengkhawatirkan saat infeksi melonjak melewati 400.000, jauh di atas negara manapun di planet ini.

New York, pusat wabah di AS, mencatat rekor 779 kematian dalam 24 jam, meskipun Gubernur Andrew Cuomo mengatakan epidemi sepertinya mulai stabil.

Dampak ekonomi dari krisis virus "mungkin merupakan resesi ekonomi terdalam atau penurunan kehidupan kita", kata kepala Organisasi Perdagangan Dunia, Roberto Azevedo.

Menurut WHO, pertumbuhan perdagangan global bisa anjlok sampai sepertiganya tahun ini.

Prancis mencatat kinerja ekonomi terburuk sejak 1945 pada kuartal pertama tahun ini setelah menyusut sekitar enam persen.

Perekonomian Jerman yang merupakan terbesar di Eropa, diperkirakan anjlok ke dalam "resesi serius" dan berkontraksi hampir 10 persen pada triwulan kedua, kata para peneliti terkemuka memperingatkan.

Pada saat beberapa negara Eropa mempertimbangkan untuk mengurangi lockdown, Organisasi Kesehatan Dunia mendesak untuk mencegah hal itu.

"Sekarang bukan saatnya melonggarkan tindakan. Ini adalah masa untuk sekali lagi menggandakan dan melipatgandakan upaya kolektif kita dalam mendorong penindasan dengan dukungan seluruh masyarakat," kata direktur WHO Eropa Hans Kluge.

Sementara itu, banyak kaum Yahudi di seluruh dunia menandai dimulainya Paskah tanpa pertemuan keluarga besar yang biasanya diselenggarakan untuk acara Seder yang sebagian beralih ke platform virtual.

Di Wuhan yang mengantarkan dunia kepada lockdown yang belum pernah terjadi sebelumnya pada Januari, langkah-langkah ketat sepertinya telah membuahkan hasil.

Setelah larangan perjalanan selama berbulan-bulan akhirnya dicabut, puluhan ribu orang meninggalkan kota itu dalam suasana lega yang kontras dengan suasana mengerikan di sebagian besar dunia, sekalipun sejumlah penumpang bepergian dengan pakaian hazmat.

Namun tak seluruhnya kembali normal karena sekolah-sekolah masih tutup dan mengadakan perjalanan tidak disarankan.

Di stasiun kereta api, sebuah robot berputar melalui kerumunan orang untuk menyemprot kaki mereka dengan desinfektan.

Penumpang juga harus lulus pemeriksaan suhu dan menunjukkan kode hijau sehat pada ponselnya.

Di tempat lain, staf medis menanggung beban fisik dan emosional yang berat ketika mereka bekerja di unit perawatan intensif yang melonjak dan rumah sakit-rumah sakit darurat di New York didirikan di stadion olahraga, kapal dan bahkan katedral.

Di Spanyol yang menjadi tempat kematian akibat wabah terburuk kedua di dunia, 757 kematian lainnya dilaporkan Rabu sehingga menambah jumlah korban untuk hari kedua setelah beberapa hari menurun.

Sebanyak 81 persen dari total 3,3 miliar tenaga kerja dunia telah terdampak "krisis global terburuk sejak Perang Dunia Kedua" ini, kata Organisasi Perburuhan Internasional.

Berbagai pemerintah meluncurkan langkah-langkah stimulus yang menggiurkan demi meringankan kepedihan ekonomi.

Di Washington, Demokrat menuntut tambahan 500 miliar dolar untuk memerangi krisis virus corona.

Zona euro juga terperosok dalam percekcokan atas rencana dana talangan bagi anggota-anggotanya yang terpukul keras.

Para menteri keuangan zoan euro tidak dapat menjembatani perpecahan setelah 16 jam perundingan yang akan dilanjutkan Kamis.

Pasar melanjutkan pergerakan bergejolaknya di mana bursa saham Wall Street naik pada awal perdagangan pada Rabu ketika bursa saham Eropa tergelincir.

Sementara itu, warga miskin di dunia sudah kesulitan bertahan hidup.

"Sejak krisis ini mulai, kami diam di rumah dan tidak ada uang masuk," kata Mohamed Said, tukang kayu berusia 36 tahun dan ayah tiga anak yang antre paket makanan di Kairo.

burs-ssm/pma