Wabah Jamur di India, Risiko Kematian Pasien COVID-19 Kian Mengerikan

·Bacaan 2 menit

VIVA – Infeksi jamur yang mewabah di India, sebanyak 9 ribu kasus, dapat mengintai siapa pun. Pada pasien COVID-19 yang terinfeksi jamur tersebut, potensi kematian akan semakin besar.

Infeksi jamur atau disebut sebagai mukormikosis, termasuk penyakit langka, tetapi berbahaya karena potensi kematiannya sangat tinggi. Angka kematian bervariasi antara 46 persen hingga 96 persen tergantung pada kondisi penyakit pasien, jenis jamur, dan bagian tubuh yang terkena.

Dijelaskan Ahli penyakit infeksi, dr Anna Rozaliyani, MBiomed, SpP(K), mukormikosis rentan menyerang bagi pasien COVID-19 dengan gejala derajat berat. Dengan diperparah infeksi jamur, maka risiko kematian pun tak terhindarkan.

"Ibaratnya jangan sampai sudah jatuh, tertimpa tangga. Pasien COVID-19 itu sudah alami gangguan sistem imun berat ditambah terkena mukormikosis maka akan timbul komplikasi yang perberat gejala sehingga meningkatkan risiko kematian. Peluang kematian lebih besar," ujar dr. Anna dalam acara virtual bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Kamis 3 Juni 2021.

Bahaya pada pasien COVID-19
Mukormikosis maupun infeksi jamur sistemik lain berpotensi menimbulkan komplikasi yang memperberat kondisi pasien COVID-19, serta meningkatkan risiko kematian.

Selain itu, dampak lainnya adalah makin tingginya biaya perawatan di rumah sakit akibat infeksi jamur. Hal ini berkaitan dengan besarnya biaya pemeriksaan serta pengobatan yang harus diberikan.

"Masa rawat di RS yang lebih lama, serta banyaknya SDM tenaga kesehatan yang harus tersedia untuk merawat pasien dengan kondisi sakit berat atau kritis," imbuhnya.

Bagaimana jamur menginfeksi manusia?
Lebih lanjut, mukormikosis berpotensi menyerang berbagai sistem organ yang mengakibatkan munculnya beragam gejala klinis yang berkembang cepat. Tanda klinis klasik mukormikosis adalah timbulnya nekrosis atau kematian jaringan secara cepat.

"Hal itu terjadi akibat invasi jamur yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan trombosis (gumpalan darah), serta kelainan jaringan berwarna hitam atau black eschar," beber dr. Anna.

Dokter Anna menyebut bahwa secara teori, mukormikosis terjadi melalui kontak dengan spora/elemen jamur dari lingkungan. Misal, tanah, bahan organik yang membusuk seperti daun, tumpukan kompos, dan kotoran hewan.

Elemen jamur yang sangat kecil dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran napas (terhirup dari udara). Kedua, melalui cedera/goresan kulit. Atau, tertelan tanpa disadari, walau sangat jarang.

"Tapi, mukormikosis tidak menular dari orang ke orang, maupun dari binatang," tegasnya.