Wabup Sleman berharap jam main Liga 1 tidak terlalu malam

Wakil Bupati Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Danang Maharsa berharap jadwal atau jam pertandingan pada kompetisi Liga 1 tidak terlalu malam karena rawan menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Di Sleman ini ada tim PSS Sleman yang berlaga di Liga 1. Beberapa pertandingan dimainkan cukup malam yakni pada pukul 20.30 WIB," kata Danang Maharsa di Sleman, Selasa.

Menurut dia, jadwal pertandingan yang terlalu malam ini rawan terjadi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat terutama saat pertandingan selesai dan penonton maupun suporter pulang dari stadion.

"Kalau mulai jam 20.30 WIB maka selesai pertandingan sekitar jam 22.30 WIB, kemudian pergerakan penonton dan suporter keluar dari stadion bisa sampai jam 24.00 WIB lebih," katanya.

Baca juga: Bupati Sleman minta polisi usut tuntas kasus kematian suporter PSS
Baca juga: Pemkab Sleman beri uang duka keluarga suporter PSS korban penganiayaan

Ia mengatakan, pihaknya hanya bisa memberikan masukan kepada PSSI agar dipertimbangkan ulang terkait jam pertandingan pada malam hari ini.

"Kami tidak bisa menentukan jadwal pertandingan, kami hanya bisa memberikan masukan saja," katanya.

Danang berharap masukan dapat diterima secara bijaksana, sebab banyak pertimbangan yang harus diputuskan oleh pihak penyelenggara.

"Semoga ada kebijakan khusus dari PSSI agar tidak terlalu malam karena risikonya. Tapi perlu kita ketahui bahwa risiko bukan di dalam stadion namun sebelum dan setelah pertandingan," katanya.

Sebelumnya seorang fans klub sepak bola PSS Sleman Aditya Eka Putranda (18) meninggal dunia akibat dianiaya sejumlah orang sepulang dari menonton pertandingan PSS Sleman melawan Persebaya Surabaya pada Sabtu (27/8) malam.

Peristiwa penganiayaan yang menimpa almarhum Aditiya terjadi Minggu 28 Agustus dini hari sekitar pukul 00.15 WIB di palang pintu kereta api Dusun Mejing Kidul, Ambarketawang, Gamping yang dilakukan oleh sekelompok orang.

Kejadian penganiayaan tersebut menimpa tiga orang suporter PSS Sleman yang hendak pulang setelah menonton laga PSS Sleman melawan Persebaya di Stadion Maguwoharjo, Depok.

Tiga korban atas nama Ardiansyah Bagus Setiawan dan Gandung mengalami luka sayatan dan pukulan benda tumpul, serta Aditiya Eka Putranda meninggal dunia setelah dibawa ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping.

Baca juga: KPPPA fasilitasi pemulihan korban pelecehan seksual suporter bola

Baca juga: Kiper PSS Dimas Fani bangga pernah menjadi Paskibraka