Wacana China Campur Vaksin COVID-19 Produksinya, Pakar: Itu Wajar

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Pemerintah China memberikan pengakuan mengejutkan bahwa vaksin COVID-19 produksinya kurang efektif sehingga berencana memberi campuran tambahan. Padahal, Indonesia sendiri mengandalkan vaksin produksi Sinovac yang berasal dari China. Lantas, bagaimana tanggapan pakar?

Menanggapi hal itu, Kepala Lembaga Eijkman, Prof. Amin Soebandrio, menyebut bahwa penambahan campuran lain pada vaksin yang sudah ada adalah hal wajar. Hal itu diupayakan untuk meningkatkan efikasi suatu vaksin.

"Itu wajar upaya dari pembuat vaksin untuk tingkatkan efikasinya, itu hal yang wajar," kata Prof. Amin saat Kuliah umum virtual bersama Swiss German University, baru-baru ini.

Menurut Profesor Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, syarat efikasi dari World Health Organization (WHO) adalah 50 persen. Sementara, perusahaan vaksin asal China mengklaim efikasinya hanya sebesar 65 persen dibanding klaim vaksin jenis lain.

"Mungkin itu yang melatarbelakangi perusahaan itu ingin tingkatkan efikasinya. Efikasi vaksin bisa ditingkatkan dengan pemberian adjuvan, pemberian secara bersamaan bahan-bahan tertentu untukk tingkatkan respons imun," tutur Tim Konsorsium Vaksin Nasional itu.

Kendati demikian, Prof. Amin menegaskan bahwa efikasi yang rendah bukan berarti tidak memiliki khasiat sama sekali. Terlebih, vaksin yang telah diberikan pada masyarakat Indonesia, pun terbukti telah membentuk antibodi terhadap virus SARS-CoV-2

"Tidak berarti vaksin sekarang yang diberikan tidak bermanfaat. Dari beberapa pengamatan, antibodi yang terbentuk itu sudah ada, sebagian besar sudah menunjukkan ada antibodi, memang kadarnya beda-beda," tuturnya.