Wacana Koalisi dengan Gerindra, PDIP Akui Ada Faktor Kedekatan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menanggapi wacana koalisi poros PDIP-Gerindra. Dia mengatakan, pihaknya mempertimbangkan kedekatan PDIP dengan Gerindra untuk berkoalisi di 2024.

Hasto mengatakan, hubungan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto berjalan baik. Ada kedekatan secara ideologis, kultural, organisasi, serta basis massa. Hal ini, kata Hasto, menjadi pertimbangan untuk bekerja sama.

"Karena memang melihat bagaimana kedekatan hubungan Pak Prabowo dengan ibu Megawati karena selain aspek ideologi faktor kedekatan kultural, kedekatan organisasi, kedekatan basis massa, kedekatan dari aspek strategi untuk memperluas basis masa itu juga akan menjadi pertimbangan," ujar Hasto dalam diskusi daring, Jumat (28/5/2021).

Dalam kesempatan ini Hasto juga mengungkap, PDIP juga cocok membangun kerja sama dengan partai lain. Seperti PAN yang semakin mudah setelah Amien Rais keluar dan mendirikan partai sendiri.

"Saya mendapat bisikan dari teman teman PAN pasca Pak Amien Rais tidak tidak ada di PAN, itu makin mudah lagi untuk membangun kerja sama politik, dan saya tahu Pak Zulkifli beliau adalah sosok yang berkomitmen dengan bangsa dan negara dengan sangat jelas ketika ditawari oleh koalisi partai atas dasar agama beliau menegaskan itu akan menambah pembelahan yang terjadi, kita ini negara begitu besar dari Sabang sampai Merauke, itu kita jaga marwahnya," kata Hasto.

Koalisi

Begitu juga PDIP dengan PPP juga mudah berkoalisi. Selain kantor kedua partai saling bertetangga, juga punya nasib sama saat Orde Baru.

Pertemuan itu pernah terjadi saat Megawati berpasangan bersama Hamzah Haz sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

PDIP, kata Hasto, juga punya kedekatan dengan PKB sebab kepala daerah PDIP banyak berafiliasi dengan NU.

"Jadi prinsipnya kami bangun aliansi dan kerja sama itu juga mereka yang terhadap republik ini 1912 berdiri Muhammadiyah, salah satunya lahirlah PAN, kami cocok, kemudian 1926 ada NU, lahir PKB dan PPP, kami cocok, 1945 berdiri dengan TNI, pak Prabowo dari tni, kami cocok," kata Hasto.

Selain itu Hasto berharap Pemilu ke depan hanya terbangun dua pasangan calon. Agar tidak habis energi hanya untuk kontestasi.

"Kami akan membangun koalisi sehingga paling tidak Pemilu ke depan itu hanya diikuti oleh dua pasangan calon, jadi tidak ada dua ronde supaya energi kita ini bisa difokuskan mengatasi berbagai persoalan," katanya.

Reporter: Ahda Bayhaqi

Sumber: Merdeka.com

Saksikan video pilihan di bawah ini: