Waduh, 2 Jenderal TNI Ini yang Dianggap Orang Gila

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Mencintai profesi memang sudah seharusnya dimiliki oleh semua orang di dunia ini. Tak terkecuali bagi prajurit TNI, yang punya tugas berat menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Soal pengabdian, ada dua orang Purnawirawan Perwira Tinggu (Pati) TNI Angkatan Darat yang dianggap "gila".

Jangan pernah ragukan loyalitas dua sosok jenderal dengan pangkat bintang tiga atau Letnan Jenderal (Letjen) TNI. Keduanya menghabiskan waktu lebih dari 30 tahun untuk mengabdi kepada negara sebagai prajurit TNI. Setelah pensiun pun, keduanya masih mencurahkan kemampuannya untuk negara. Lantas, siapakah sosok itu?

Nama pertama adalah Letjen TNI (Purn.) Johannes Suryo Prabowo. Jebolan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) 1976 ini menghabiskan waktu selama 36 tahun bersama TNI Angkatan Darat.

Jenderal dari satuan Zeni Komando Pasukan Khusus (Kopassus) ini pernah mempertaruhkan nyawanya dalam pertempuran Operasi Seroja di Timor-Timur. Selain itu, Suryo Prabowo juga penah memegang sejumlah jabatan strategis.

Tercatat Suryo Prabowo pernah menduduki posisi sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) 1/Bukit Barisan, Pangdam Jayakarta/Jaya, Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad), dan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI.

Pada 1998 silam, Suryo Prabowo sempat ditunjuk untuk mengisi jabatan politis sebagai Wakil Gubernur Timor-Timur. Kala itu, Pria kelahiran Semarang 15 Juni 1954 ini menjadi orang nomor dua di Bumi Lorosae. Padahal saat itu juga, Suryo Prabowo baru berpangkat Kolonel TNI.

Merasa bukan ranahnya, Suryo Prabowo pun enggan melanjutkan tugasnya sebagai Wakil Gubernur Timor-Timur. Dikutip VIVA Militer dari akun Facebook pribadinya, Suryo Prabowo mengaku disebut sebagai tentara gila gara-gara tak mau lagi jadi Wakil Gubernur. Padahal di sisi lain, banyak orang yang justru sangat ingin menjadi pemimpin daerah.

"Aku dulu dibilang orang tentara gila, ketika di tahun 1998 gak mau lagi jadi Wagub Timor-Timur, beberapa hari sebelum dinaikkan pangkatku jadi Brigadir Jenderal TNI mendahului teman-teman seangkatanku," bunyi pernyataan Suryo Prabowo di Facebook.

Ternyata, Suryo Prabowo tak merasa dirinya saja yang dibilang gila. Pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) ini menganggap Letjen TNI (Purn.) Edy Rahmayadi lebih gila lagi.

Suryo Prabowo meyakini bahwa Edy sangat mencintai Sumatera Utara (Sumut), dan memilih pensiun dini agar bisa menjadi pemimpin di provinsi itu. Meski lahir di Sabang, Aceh, keluarga Edy berasal dari Sumatera Utara dan pada akhirnya ia pun terpilih menjadi Gubernur Sumut.

Keputusan Edy pensiun dini lah yang dianggap Suryo Prabowo lebih gila dari apa yang pernah dilakukannya 23 tahun lalu. Sebab saat pensiun, Edy tengah menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad).

Ya, jabatan Pangkostrad adalah jabatan bergengsi di jajaran satuan tempur TNI Angkatan Darat. Suryo Prabowo yakin Edy bisa saja dipercaya menjadi orang nomor satu di TNI Angkatan Darat sebagai Kasad. Namun faktanya, Edy justru lebih memilih mundur dan mengabdikan diri sebagai Gubernur Sumut.

"Sekarang ini ada yang lebih gila lagi. Letjen TNI (Purn.) Edy Rahmayadi minta pensiun dini, justru di saat dia sedang di puncak jabatan paling bergengsi di kesatuan tempur TNI AD, yaitu jabatan Pangkostrad," lanjut pernyataan Suryo.

"Bahkan Edy Rahmayadi gak mau pake vouchernya untuk dipromosikan jadi Kasad, jabatan tertinggi di TNI AD agar bisa mencalonkan diri menjadi Gubernur Sumatera Utara (Sumut)," tulis Suryo Prabowo lagi.