Waduk Cirata Jadi PLTS Terapung Terbesar di Asia Tenggara dan Terluas Kedua di Dunia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Investor Uni Emirat Arab (UEA) resmi memulai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Cirata, Jawa Barat. Proyek ini merupakan hasil pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Pangeran Mohamed bin Zayed di Abu Dhabi pada Januari 2020.

Proyek PLTS Terapung 145 MW ini memiliki nilai investasi US$ 129 juta (Rp 1,8 trilliun). Pihak investor dari UEA adalah Masdar yang bermarkas di Abu Dhabi.

Ini adalah proyek PLTS terbesar di Asia Tenggara dan terluas kedua di dunia.

Peresmian proyek PLTS Terapung ditandai dengan penandatanganan Shareholder Agreement. Prosesi peluncuran floater juga akan menjadi salah satu kick off proses persiapan pembangunan pembangkit listrik di waduk Cirata.

Untuk tahap awal, PT Pembangkit Jawa Bali Solar Masdar Energi akan menempatkan water station untuk mengumpulkan data sebagai persiapan dari proses pembangunan pembangkit.

"Kami berharap Masdar, selaku investor UEA dan mitra PJB (Pembangkitan Jawa Bali) dalam proyek ini, dapat terus melakukan ekspansi dan membangun pembangkit listrik lainnya di Indonesia," ujar Duta Besar Indonesia untuk UEA Husin Bagis seperti dilansir situs Kementerian Luar Negeri, Jumat (18/12/2020).

(US$ 1 = Rp 14.138)

PLTS Terbesar Kedua di Dunia

Proyek PLTS terbesar kedua di dunia di Cirata, Jawa Barat. Dok: Kementerian Luar Negeri
Proyek PLTS terbesar kedua di dunia di Cirata, Jawa Barat. Dok: Kementerian Luar Negeri

Turut dijelaskan bahwa PLTS di Cirata ini akan menjadi yang terluas kedua di dunia, serta terbesar di seantero Asia Tenggara.

"Hasil dari listrik akan masuk ke jaringan transmisi PLN yang akan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Ini merupakan pembangkit listrik tenaga surya terbesar kedua di dunia dan terbesar di Asia Tenggara," ujar Dubes Husin.

Pembangunan proyek ini juga merupakan tanda bahwa Indonesia terbuka bagi investasi asing serta untuk pembangunan energi terbarukan.

Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung 145 MW ini merupakan satu di antara 11 kesepakatan bisnis yang dipertukarkan di hadapan Presiden Joko Widodo dan Pangeran Abu Dhabi pada Januari lalu.

Investasi Uni Emirat Arab

Orang-orang menikmati pemandangan cakrawala kota dengan latar gedung tertinggi di dunia Burj Khalifa, di Dubai, Uni Emirat Arab (18/10/2019). Burj Khalifa yang sebelumnya bernama Burj Dubai, adalah sebuah pencakar langit di Dubai, UEA yang diresmikan pada 4 Januari 2010. (AP Photo/Kamran Jebreili)
Orang-orang menikmati pemandangan cakrawala kota dengan latar gedung tertinggi di dunia Burj Khalifa, di Dubai, Uni Emirat Arab (18/10/2019). Burj Khalifa yang sebelumnya bernama Burj Dubai, adalah sebuah pencakar langit di Dubai, UEA yang diresmikan pada 4 Januari 2010. (AP Photo/Kamran Jebreili)

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), selama lima tahun terakhir UEA menyumbang nilai investasi sebesar US$ 259 juta. Investasi ini terdiri dari 338 proyek investasi, dan menyerap kurang lebih 9.900 tenaga kerja. Tren tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

Pada 2015 level investasi dari UEA hanya US$ 19 juta per tahun, maka pada tahun 2020 angkanya mencapai USD 69 juta per tahun, atau naik hingga 350%.

Masdar sendiri adalah perusahaan yang berdiri sejak 2006 dan berbasis di UEA. Perusahaan ini fokus mengembangkan proyek energi terbarukan baik skala utilitas maupun off-grid, dan aktif di lebih dari 30 negara di seluruh dunia.

Kapasitas pembangkit listrik dari proyek-proyek energi terbarukan yang bermitra dengan Masdar adalah sekitar 10 gigawatt (GW), mewakili investasi gabungan sekitar US$ 19,9 miliar.

Adapun teknologi bersih yang digunakan yaitu: tenaga angin darat dan lepas pantai, fotovoltaik surya (PV), tenaga surya terkonsentrasi, penangkapan karbon, pemanfaatan dan penyimpanan (CCUS), limbah menjadi energi, desalinasi air, dan penyimpanan energi listrik dan panas.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: