Wagub DKI soal Kandungan Parasetamol di Teluk Jakarta: Sudah Diambil Sampel

·Bacaan 2 menit
Anak-anak memancing di Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Sabtu (2/10/2021). Kandungan paracetamol yang terkandung di Angke bahkan mencapai 610 nanogram per liter. Sedangkan di Ancol kandungannya mencapai 420 nanogram per liter. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyatakan Dinas Lingkungan Hidup telah mengambil sampel air di Teluk Jakarta yang dikabarkan memiliki kadar tinggi parasetamol.

Nantinya sampel tersebut akan dilakukan penelitian lebih lanjut.

"Dinas Lingkungan Hidup sudah mengambil sampel yah, perlu waktu kurang lebih 14 hari nanti hasil penelitiannya akan disampaikan ya," kata Riza di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (4/9/2021).

Dia menyatakan pihaknya belum mengetahui penyebab pencemaran tersebut. Apakah faktor kesengajaan ataupun ketidaksengajaan beberapa pihak.

Karena hal itu, politikus Gerindra tersebut meminta agar masyarakat tetap menjaga lingkungan untuk kehidupan bersama, terlebih di Teluk Jakarta.

"Agar ekosistemnya baik terpelihara, karena ikut menyangkut kehidupan. Tidak hanya ekosistem laut tapi juga kehidupan kita bersama," ucap dia.

BRIN Belum Bisa Pastikan Sumbernya

Sementara itu, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Zainal Arifin menyatakan pihaknya belum dapat memastikan sumber pencemaran kadar parasetamol yang tinggi di perairan Teluk Jakarta.

Menurut dia, pencemaran yang terjadi tersebut belum tentu disebabkan dari Jakarta saja, namun ada kontribusi dari wilayah penyangga.

"Jadi karena ini di Teluk Jakarta, Pemda Jakarta mungkin, tapi enggak. Kita harus tahu bahwa kita peneliti hampir setuju bahwa 60 sampai 80 persen pencemaran itu datangnya dari daratan sumbernya dari daratan itu kan bisa sampai Bodetabek," kata Zainal dalam konferensi pers, Senin (4/9/2021).

Kendati begitu, dia menyebut ada tiga kemungkinan penyebab pencemaran paracetamol di perairan Jakarta. Seperti halnya gaya hidup hingga terkait obat-obatan kadaluarsa yang tidak terkontrol.

"Dengan jumlah penduduk yang tinggi di kawasan Jabodetabek dan jenis obat yang dijual bebas tanpa resep dokter, memiliki potensi sebagai sumber kontaminan di perairan," paparnya.

Lalu kata dia, yaitu mengenai pengelolaan limbah farmasi dari rumah sakit belum optimal. Akibatnya, limbah yang terbuang ke lautan terkontaminasi dengan zat paracetamol.

"Sehingga sisa pemakaian obat atau limbah pembuatan obat masuk ke sungai dan akhirnya ke perairan pantai," jelas dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel