Wagub Jabar: Banjir di Garut Karena Pembabatan dan Alih Fungsi Lahan di Hulu Sungai

Merdeka.com - Merdeka.com - Banjir yang melanda Garut pada Jumat (15/7) malam menyebabkan hanyutnya sembilan rumah. Selain itu, puluhan rumah mengalami kerusakan.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum menilai, banjir yang terjadi di Garut tidak hanya akibat curah hujan yang tinggi. Lebih dari itu, banjir karena adanya pembabatan dan alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai.

"Informasi yang kami terima, ada pembabatan hutan (di kawasan hulu sungai), kemudian hutan lindung dipakai untuk hutan produktif, pembangunan dan lainnya," kata Uu di Garut usai meninjau lokasi bencana banjir di Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Uu memberi edukasi pada warga. Masyarakat juga harus paham bahwa bencana banjir tidak tiba-tiba datang begitu saja.

"Penyebab bencana ini masyarakat harus paham, terutama yang di hulu. Jangan melakukan tindakan yang bisa menyebabkan terjadinya bencana," jelasnya.

Namun Uu menegaskan bahwa pernyataannya tidak bermakna menjadi larangan untuk melakukan kegiatan di kawasan hulu sungai. Dia meminta masyarakat melakukan penggarapan secara rasional agar aktivitasnya tidak menyebabkan bencana.

"Kami tidak melarang, tapi penggunaannya harus rasional. Sehingga ketika hujan turun tidak kejadian seperti ini," ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga meminta warga yang selama ini tinggal di sempadan sungai untuk segera pindah. Mereka diminta untuk pindah ke tempat yang lebih aman agar kemudian tidak kembali menjadi korban saat banjir luapan air sungai.

Uu mengaku sudah meminta langsung kepada warga yang tinggal di sempadan sungai untuk pindah ke tempat yang lebih aman.

"Pemerintah meminta kepada masyarakat, khususnya yang berada di sempadan sungai untuk pindah ke tempat lebih aman. Saya sudah bertanya kepada beberapa, ada yang mau dan tidak," kata Uu.

Dia menjelaskan, pemindahan menjadi hal yang baik demi keselamatan. Apalagi sudah beberapa kali terjadi banjir. Makin lama makin dahsyat.

"Saya berharap, masyarakat di sini untuk pindah. Kami tidak memaksa, hanya meminta kesadaran," katanya.

Selain meminta warga yang tinggal di sempadan sungai untuk pindah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga telah memiliki program untuk perbaikan sungai.

"Dengan pembangunan TPT dan sebagainya. Namun, karena ada jembatan yang putus, mungkin itu akan dialihkan dulu untuk jembatan. Karena itu yang lebih penting," sebutnya.

Uang Kerahiman Korban Banjir

Bupati Garut, Rudy Gunawan mengatakan banjir yang terjadi pada Jumat (15/7) malam menyebabkan hanyutnya sembilan rumah. Selain rumah yang hanyut, ia juga mengatakan bahwa ada puluhan rumah yang mengalami kerusakan akibat banjir itu.

"Jumlah warga yang hanyut ada sembilan karena luapan air sungai Cimanuk dan Cipeujeuh. Untuk rumah yang rusak, ada 43," kata Rudy, Minggu (17/7).

Selain itu, dijelaskan Rudy, untuk jumlah total rumah yang terdampak banjir mencapai 4.000 dan tersebar di 13 kecamatan. Hingga saat ini, jumlah warga yang harus mengungsi sementara dan ditempatkan di tempat pengungsian berjumlah 150 orang.

“Tempat pengungsian dilengkapi dengan dapur darurat,” jelasnya.

Untuk rumah-rumah yang hanyut dan rusak akibat banjir, disebut Rudi, pihaknya akan diberikan yang kerahiman. Selain yang rumahnya hanyut, uang kerahiman juga akan diberikan kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan.

"Uang kerahimannya sebesar Rp50 juta. Akan dieksekusi senin besok supaya cepat," sebutnya.

Tanggap Darurat

Selain itu, Wakil Bupati Garut Helmi Budiman mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Garut telah menetapkan status masa tanggap darurat bencana selama dua pekan, mulai 16 Juli 2022 hingga 29 Juli 2022.

"Masa tanggap darurat 2 minggu, setelah itu ada rehab rekon, makanya tadi untuk pengusulan juga kita pisahkan, untuk tanggap darurat berapa untuk rehab rekonnya berapa," ucapnya.

Hingga saat ini, diakui Helmi, pihaknya masih mengumpulkan data yang kaitannya dengan bencana banjir dan longsor, termasuk kebutuhan di masa tanggap darurat. Dari data sementara, jumlah desa dan kelurahan yang terdampak berjumlah 32.

“Untuk data kerusakan terus diperbaharui, termasuk juga kaitannya dengan kerugian masih dalam perhitungan. Kami sudah instruksikan RT dan RW agar memberikan data akurat dan bisa dipertanggungjawabkan karena akan menjadi dasar penyaluran bantuan,” katanya. [noe]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel