Wagub NTT: Jangan Pilih Gubernur karena SARA

Kupang (ANTARA) - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Esthon Foenay mengimbau masyarakat untuk memilih gubernur berdasarkan kualitas calon, bukan karena faktor suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

"Jangan karena SARA lalu kita salah memilih pemimpin. Harus berdasarkan kualitas dan kepedulian kepada rakyat NTT," kata Foenay di Kupang, Selasa.

Dia mengemukakan hal itu menanggapi bergulirnya isu SARA menjelang pemilihan gubernur NTT putaran dua pada 15 Mei mendatang.

Sebagai calon pemimpin, kata dia, calon gubernur mendatang harus bisa menjadi pemimpin yang bisa berlaku adil untuk semua suku, agama, ras, dan golongan yang ada di daerah ini demi kepentingan kesejahteraan seluruh masyarakat.

Ketua DPD Partai Gerindra NTT yang juga calon Gubernur NTT yang akan bertarung di putaran kedua 15 Mei mendatang itu mengakui bahwa "provinsi seribu pulau" NTT adalah daerah yang heterogen.

Oleh karena itu, bersikap adil dengan tetap menjunjung tinggi kebebasan berserikat kepada semua suku, agama, ras, dan golongan yang ada akan memberikan jawaban terhadap kehidupan harmonis antarmasyarakat di daerah ini.

Kebhinnekaan, lanjut dia, harus menjadi dasar penjelamaan kebijakan program pembangunan pemerintah yang akan dilakukan oleh pemimpin daerah ini.

"Kita butuh pemimpin yang pluralis dan bisa berada dan berpijak di antara semua suku, agama, ras, dan golongan yang ada, demi kemaslahatan bersama. Tidak memihak dan berlaku sepihak," katanya.

Dia mengatakan selaku calon gubernur dan ketua Partai Gerindra sudah memberikan rambu yang cukup terkait kehidupan nasionalisme kebangsaan dan kebhinnekaan di tengah pluralisme bangsa saat ini.

"Sebagai kader partai kita sudah siap untuk berdiri di semua golongan dan siap berlaku adil di tengah pluralisme kehidupan sosial yang ada," kata Foenay.

Ia mengatakan Nusa Tenggara Timur butuh pemimpin yang berkualitas dan adil, demi perubahan dan kemajuan masyarakat di daerah ini.

"Hal-hal yang berbau primordialisme harus dibuang jauh-jauh," kata Foenay.

Isu tentang primordialisme terkait suku dan agama harus dihilangkan, karena yang dibutuhkan NTT adalah seorang pemimpin yang berkulitas dan diharapkan bisa membawa perubahan yang cepat dan tepat, katanya.

"Makanya sejak awal saya pakai nama Esthon-Paul, bukan nama lainnya," katanya.

Esthon meminta seluruh pendukungnya dan warga NTT untuk tetap menjaga suasana aman dan harmonis menjelang dan saat pilkada putaran kedua.

Menjelang Pemilihan Gubernur NTT putaran kedua antara Esthon Foenay-Paul dan Frans Lebu Raya-Beny Litelnony banyak beredar pesan pendek (SMS) yang mengatasnamakan suku dan agama.(rr)



Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.