Wah, Miliarder Pencipta Uang Kripto Sendiri Sudah Prediksi Investasi Ini Bakal Anjlok

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Pada pekan ini, mata uang kripto dunia mengalami kehancuran parah. Nilai kripto menyusut hampir 35 persen secara total kapitalisasi hanya dalam waktu sehari.

Meskipun ini mengejutkan investor dan pasar, rupanya Vitalik Buterin, miliarder pencipta Ethereum, mengaku jika dirinya sudah memprediksi hal ini akan terjadi.

Dalam wawancara dengan CNN, Senin (24/5/2021), mogul berusia 27 tahun itu mengatakan bahwa mata uang kripto "berada dalam gelembung", tetapi sulit untuk memprediksi kapan gelembung itu akan meledak.

"Ini bisa berakhir sekarang ... Ini bisa berakhir dalam beberapa bulan," kata Buterin.

Menurut portal khusus mata uang kripto CoinMarketCap, harga Ethereum turun menjadi USD 2.092 di pekan lalu. Ini 41 persen lebih murah dari posisi USD 3.559 sebelumnya.

Meskipun, berhasil pulih melebihi USD 2.900 pada hari Kamis, hari ini mata uang kripto tersebut diperdagangkan pada USD 2.283 per unit dengan tren menurun.

Angka-angka ini masih jauh dari rekor harga sepanjang masa sebesar USD 4.337 yang dicapai pada 12 Mei, menurut data dari Coindesk.

Mempengaruhi portofolio Buterin

Ilustrasi Foto Perdagangan Saham dan Bursa (iStockphoto)
Ilustrasi Foto Perdagangan Saham dan Bursa (iStockphoto)

Mengutip Entrepreneur, kejatuhan nilai Ethereum memengaruhi portofolio publik Vitalik Buterin, yang hanya tiga minggu lalu dinobatkan sebagai miliarder termuda di dunia. Akunnya berubah dari USD 1,1 miliar menjadi USD 870 juta dalam satu hari.

Namun, jatuhnya mata uang digital tidak mengejutkan programmer berdarah Rusia-Kanada tersebut.

"Kami telah memiliki setidaknya tiga dari gelembung kripto besar ini sejauh ini (...) Dan cukup sering, alasan mengapa gelembung tersebut akhirnya berhenti adalah karena beberapa peristiwa terjadi yang hanya memperjelas bahwa teknologinya belum ada," kata pendiri Ethereum itu.

Saat ini, Ethereum adalah mata uang yang menempati kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, hanya di belakang Bitcoin.

Salah satu alasan popularitasnya yang semakin meningkat adalah karena digunakan dalam transaksi NFT atau non-fungible tokens, sebuah sensasi ‘kripto’ baru.

Dua peristiwa yang jadi penyebab

CEO Tesla, Elon Musk, memperkenalkan Cybertruck di studio desain Tesla di Hawthorne, California (21/11/2019). Truk Pikap ini dibekali dua motor Listrik dengan sistem penggerak menggunakan konfigurasi semua roda atau yang biasa disebut 4WD. (AP Photo/Ringo H.W. Chiu)
CEO Tesla, Elon Musk, memperkenalkan Cybertruck di studio desain Tesla di Hawthorne, California (21/11/2019). Truk Pikap ini dibekali dua motor Listrik dengan sistem penggerak menggunakan konfigurasi semua roda atau yang biasa disebut 4WD. (AP Photo/Ringo H.W. Chiu)

Runtuhnya mata uang kripto yang tiba-tiba sebenarnya dapat dijelaskan oleh dua peristiwa penting yang terjadi pada minggu lalu.

Pertama, pada hari Minggu 16 Mei, Elon Musk menyatakan di Twitter bahwa Tesla tidak akan lagi menerima Bitcoin sebagai pembayaran. Kedua, pengumuman bahwa China akan melarang transaksi dengan mata uang kripto ke lembaga keuangan negara tersebut.

Dua peristiwa besar ini dipercaya menjadi biang keladi dari keruntuhan tersebut.

Reporter: Priscilla Dewi Kirana

Saksikan Video Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel