Wahai Orang Tua, Ini Dampaknya Jika Suka Memukul Anak

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Adalah hal yang wajar jika seorang anak melakukan kesalahan. Sebagai orang tua, ketika anak sedang salah, seharusnya tidak memarahi atau bahkan memberikan hukuman fisik, seperti memukulnya. Karena menurut penelitian, hukuman fisik tidak akan meningkatkan perilaku positif atau kompetensi sosial seorang anak.

Seorang profesor dalam perkembangan manusia dan ilmu keluarga di The University of Texas di Austin, Elizabeth Gershoff mengatakan dalam sebuah jurnal Lancet, hukuman fisik seperti memukul dapat membahayakan perkembangan dan kesejahteraan seorang anak.

“Orang tua memukul anak-anak karena mereka pikir hal itu akan memperbaiki perilaku mereka. sayangnya, penelitian kami menunjukkan bukti yang jelas dan meyakinkan bahwa hukuman fisik tidak memperbaiki perilaku anak-anak, justru akan memperburuknya,” jelas Gershoff, seperti dikutip dari CNN, Selasa (06/07/2021).

Berdampak Negatif

Gershoff mengatakan, beberapa orang tua melakukan hal ini biasanya untuk mendisiplinkan sang anak. Untuk mendidik anak menjadi lebih disiplin, orang tua terkadang harus sampai memukul dengan benda atau kepalan tangan, menampar wajah atau kepala, melempar benda kepada anak, menendang, atau mengancam, dan masih banyak lagi perlakuan yang tidak baik lainnya.

Beberapa penelitian menunjukkan efek positif dan negatifnya dari sikap orang tua tersebut. Akan tetapi, sebagian besar penelitian lebih menunjukkan dampak negatifnya secara signifikan.

“Sebanyak 13 dari 19 studi indepencen mengatakan bahwa pukulan dan bentuk hukuman anak lainnya dapat membuat perilaku anak justru bermasalah dari waktu ke waktu, seperti peningkatan agresi, peningkatan perilaku antisosial, dan peningkatan perilaku mengganggu di sekolahnya,” ujar Gershoff.

Selain itu dalam studi lain yang dilakukan di Kolombia, Amerika Serikat menemukan bahwa anak-anak kecil yang menerima hukuman fisik cenderung memiliki keterampilan kognitif yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang tidak dihukum secara fisik.

Bahkan hukuman fisik juga dapat meningkatkan masalah perilaku dan tanda-tanda gangguan pembangkangan. Hal itu ditandai dengan amarah, perilaku argumentatif dan menantang, penolakan untuk mengikuti aturan, bahkan dendam. Semua itu mungkin akan dilakukan pada anak yang sering mendapatkan hukuman fisik dari orang tuanya.

Ada pula hasil penelitian lainnya menyebut bahwa hukuman fisik dapat meningkatkan risiko anak-anak melakukan kekerasan.

Dari beberapa penelitian itulah dikatakan bahwa memberikan hukuman fisik kepada anak akan berdampak negatif. Cara mendidik yang lebih lembut dan positif adalah yang lebih baik.

Beberapa Orang Tua di Negara Lain Masih Memberi Hukuman Fisik

Ilustrasi Kekerasan Pada Anak (iStock Photo)
Ilustrasi Kekerasan Pada Anak (iStock Photo)

Menurut UNICEF, pada 2017 lalu sebanyak 63% anak-anak berusia 2 – 4 tahun, sekitar 250 juta anak yang tinggal di negara yang tidak terlalu keras terkait hukum seperti ini mengizinkan orang tua mereka memberikan hukuman fisik kepada anak.

Bahkan di AS sendiri, diperbolehkan bagi orang tua yang sering menggunakan hukuman fisik untuk mendidik anak-anak mereka. Akan tetapi, ada pula penelitian lain yang menyebut bahwa hukuman fisik di AS telah menurun karena adanya perubahan sikap antara generasi milenium dan orang tua yang bergenerasi X.

Hingga pada akhirnya kelompok dokter anak menyarankan kepada orang tua untuk merawat anak-anaknya dengan bentuk disiplin yang sehat, seperti menetapkan batasan dan harapan dalam bentuk yang wajar, bukan dengan cara memukul, menampar, mengancam, menghina, atau mempermalukan sang anak.

Seorang penulis tentang hukuman fisik dari American Academy of Pediatrics, Sege mengatakan, “Orang tua tidak boleh memukul anak dan jangan pernah melakukan penghinaan verbal yang nantinya akan mempermalukan sang anak.”

Secara global, ada 62 negara telah melarang adanya hukuman fisik terhadap anak. Meskipun demikian, hanya ada 13% dari anak-anak di dunia yang sepenuhnya dilindungi hukum. Sisanya masih ada negara yang orang tuanya menerapkan hukuman fisik terhadap anak.

Menurut Konvensi PBB 2006 tentang hak anak, anak-anak memiliki hak atas kebebasan dan perlindungan dari hukuman fisik dan bentuk hukuman lain yang kerjam yang bisa merendahkan mereka.

“Mengingat tingginya prevalensi hukuman fisik di seluruh dunia, semua negara harus mengindahkan seruan PBB untuk menegakkan hak asasi anak-anak dan membuat mereka sejahtera dengan cara melarang hukuman fisik dalam segala bentuk apa pun,” pesan Gershoff.

Jika Hukuman Fisik Saja Tak Berhasil, Bagaimana yang Berhasil?

American Academy of Pediatrics merekomendasikan ketika seorang anak susah diatur, jangan memukulnya, tetapi mungkin sebagai orang tua Anda bisa mengambil mainannya terlebih dahulu sampai sang anak kembali menuruti perkataan orang tua.

Di samping itu, Sege mengatakan, teknik yang bisa diambil itu semuanya bergantung pada usia anak. Ketika anak-anak tumbuh menjadi balita dan terus melakukan hal yang tidak Anda inginkan, teknik terbaik adalah memenuhi kebutuhan yang mereka inginkan dan memberikannya perhatian lebih.

“Balita sangat membutuhkan perhatian orang tua. Ketika mereka melakukan sesuatu yang tidak Anda suka, alihkan perhatiannya itu pada yang lain,” kata Sege.

Seiring bertambahnya usia anak-anak, biarkan mereka mempelajari bagaimana memiliki konsekuensi dari setiap perilaku yang mereka lakukan. “Bantu mereka mengambil pelajaran selama hal itu tidak membahayakannya,” Hal kecil yang bisa menjadi contoh adalah mengatakan kepada anak bahwa dia harus kembali membereskan mainan ketika sudah selesai bermain.

Ketika sang anak tumbuh remaja pun dia sudah tidak kaget lagi karena sejak kecil sudah belajar bagaimana memiliki tanggung jawab terhadap apa yang dia kerjakan.

Reporter: Aprilia Wahyu Melati

https://edition.cnn.com/2021/06/28/health/spanking-worsens-child-behavior-wellness/index.html

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel