Wajah baru Krakatau Steel usai restrukturisasi dan bertransformasi

Di tengah pandemi yang melanda dunia usaha dengan cukup keras, kinerja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk justru bersinar dengan peningkatan signifikan laba perusahaan secara berturut-turut.

Pada tahun 2020, saat hampir seluruh perusahaan di Indonesia terseok-seok, BUMN tersebut malah mencatatkan laba bersih senilai Rp326 miliar. Keuntungan tersebut bahkan merupakan profit pertama setelah 8 tahun kas perseroan merugi sejak tahun 2012. Selain itu, capaian laba operasi tercatat mencapai Rp2,4 triliun.

Berdasarkan inisiatif efisiensi, perseroan mampu menurunkan biaya operasional pada tahun 2020, dari Rp4,8 triliun pada periode tahun 2019, menjadi Rp2,8 triliun atau terdapat penurunan sebesar 4 persen.

Penurunan tersebut terjadi pada biaya energi sebesar 46 persen menjadi Rp295 miliar, biaya utilitas sebesar 27 persen menjadi Rp564 miliar, biaya consumable sebesar 61 persen menjadi Rp230 miliar, serta biaya suku cadang (sparepart) sebesar 59 persen menjadi Rp65 miliar.

Lompatan kinerja perusahaan pelat merah tersebut juga terlihat dari perbaikan Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) yang kian membaik menjadi Rp1,09 triliun pada 2020 dari minus Rp1,92 triliun pada tahun 2019.

Tak berhenti sampai di situ, pada tahun 2021, emiten berkode saham KRAS ini kembali mencetak peningkatan keuntungan bersih 174 persen dibandingkan tahun 2020 menjadi Rp891,6 miliar. Kinerja tersebut didorong kenaikan penjualan 59 persen dari Rp19,4 triliun menjadi Rp30,9 triliun.

Dari sisi efisiensi, korporasi tersebut berhasil menurunkan biaya variabel sebesar 7 persen dan biaya tetap sebesar 10 persen. EBITDA perseroan turut naik 60 persen menjadi Rp1,82 triliun.

Pada periode tersebut, perusahaan baja tersebut membayar cicilan pokok senilai Rp3,2 triliun, yang menyebabkan total utang bank turun 7,6 persen dari sebelumnya Rp30,87 triliun menjadi Rp28,51 triliun. Sementara, total asetnya tercatat meningkat 8,2 persen dari Rp50,03 triliun di 2020 menjadi Rp54,15 triliun pada 2021.

Dua tahun mengarungi badai pandemi COVID-19, kinerja moncer BUMN tersebut tak berhenti dalam periode 2020-2021 saja. Pasalnya, pada Januari hingga April 2022 perseroan turut mencatatkan laba bersih sebesar Rp508,74 miliar atau meningkat 271,69 persen dibandingkan April 2021 senilai Rp137,22 miliar.

Laba bersih yang diperoleh tak lain berasal dari peningkatan pendapatan sebesar 39,24 persen menjadi sebesar Rp13,44 triliun dari penerimaan hingga April 2021 yang sebesar Rp9,65 triliun.

Dengan tren kinerja yang terus meningkat sejak awal 2022, pendapatan perseroan yang ditargetkan sebesar Rp37,74 triliun pada akhir tahun ini dapat tercapai.

Kinerja cemerlang perseroan tersebut tak datang begitu saja, namun berkat restrukturisasi dan transformasi yang terus dilakukan perseroan. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengaku kedua langkah tersebut telah sukses membawa produsen baja terbesar di Tanah Air itu berjaya meski diterpa COVID-19.

"Transformasi dan restrukturisasi Krakatau Steel akan terus berlanjut untuk peningkatan kinerja yang lebih baik, untuk Krakatau Steel tangguh, Krakatau Steel untuk Indonesia," ujar Erick.

Pada tahun 2019-2020, perusahaan milik negara itu melakukan restrukturisasi utang senilai 2,3 miliar dolar AS atau setara dengan Rp35 triliun. Pada tahun 2019, KRAS dan anak usahanya melakukan restrukturisasi utang dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Kemudian dengan PT Bank ICBC Indonesia, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank), serta PT Bank Central Asia Tbk. Dengan restrukturisasi, utang perseroan berkurang sebesar Rp3,3 triliun.

Sementara itu, perjalanan transformasi korporasi tersebut dimulai sejak tahun 2019 yang berfokus pada tiga bidang utama, yakni restrukturisasi perusahaan, turnaround bisnis, serta transformasi bisnis. Seluruh transformasi tersebut ditargetkan rampung dalam 5 tahun.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim dalam peluncuran aplikasi Krasmart Connect. Dokumentasi Krakatau Steel
Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim dalam peluncuran aplikasi Krasmart Connect. Dokumentasi Krakatau Steel


Transformasi digital

Didorong pandemi, transformasi bisnisnya kian mengarah kepada digital, salah satu transformasi digital perseroan yang sukses mencuri perhatian adalah KRASmart Marketplace.

Setelah sebelumnya menginisiasi Digital Control Tower, Sales GO, dan KRASmart Connect, KRASmart Marketplace menjadi langkah besar lainnya menuju transformasi digital yang lebih luas lagi. Sebuah kelanjutan dari program Krakatau Steel GO-Digital.

Diluncurkan pada 2021, KRASmart Marketplace lebih berpusat pada peningkatan layanan konsumen dengan memberikan pengalaman yang lebih baik untuk konsumen dalam mengakses produk-produk Krakatau Steel & Group maupun afiliasi serta dalam penempatan pemesanannya.

KRASmart Marketplace menjadi pengalaman yang lebih baik untuk Krakatau Steel & Group maupun afiliasi sebagai pedagang dalam menangani pesanan konsumen. Dengan inovasi ini, perusahaan baja tersebut menjadi perintis marketplace pertama khusus untuk produk baja.

Pada tahun 2022, perusahaan baja pelat merah tersebut memperkirakan penjualan baja akan meningkat 26 persen jika dibandingkan 2021, ditambah dengan adanya KRASmart Marketplace.

"Kami yakin Krakatau Steel akan dapat memperluas pangsa pasar, bahkan hingga ke berbagai negara tujuan ekspor baru selama mereka dapat mengakses KRASmart Marketplace," kata Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim.


Ekspor melesat

Ekspor baja CRC (Cold Rolled Coil) PT NS BlueScope Indonesia hasil kerja sama dengan BUMN PT Krakatau Steel Tbk ke pasar Amerika Serikat. ANTARA/HO-NS BlueScope Indonesia
Ekspor baja CRC (Cold Rolled Coil) PT NS BlueScope Indonesia hasil kerja sama dengan BUMN PT Krakatau Steel Tbk ke pasar Amerika Serikat. ANTARA/HO-NS BlueScope Indonesia

Melesatnya kinerja korporasi tersebut berkat restrukturisasi dan transformasi nampaknya turut didukung dengan lingkungan dalam negeri maupun luar negeri yang cukup kondusif. Bagaimana tidak, ekspor Indonesia serta harga komoditas global selama pandemi meningkat drastis.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor besi dan baja nasional pada tahun 2020 mencapai 11,28 miliar dolar AS atau meningkat 42,6 persen dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 7,91 miliar dolar AS. Volume ekspor besi dan baja nasional turut mencatat peningkatan 46,2 persen dari 6,31 juta ton menjadi 9,23 juta ton.

Kemudian di tahun selanjutnya, nilai ekspor besi dan baja Indonesia melonjak 90,07 persen menjadi 21,44 miliar dolar AS, dengan kenaikan total volume sebesar 49,62 persen menjadi 13,81 juta ton.

Pada 2020, Tiongkok, Taiwan, dan Korea Selatan menjadi negara tujuan dengan nilai ekspor terbesar RI, sedangkan Tiongkok, Taiwan, dan India menjadi negara tujuan dengan nilai terbesar pada tahun 2021.

Peningkatan nilai ekspor besi dan baja nasional tak terlepas dari melonjaknya harga logam tersebut di pasar global, terutama sebagai imbas konflik Rusia dan Ukraina.

Di tengah peningkatan ekspor Indonesia, BUMN tersebut mencatatkan peningkatan penjualan ekspor sebesar 104 persen dari tahun 2020 yang sebesar 128.342 ton menjadi 262.715 ton pada tahun 2021. Selama tahun 2022 hingga Maret, perseroan mencatat penjualan ekspor bahkan telah mencapai 116.406 ton.

Produk baja yang diekspor adalah baja hot rolled coil (HRC) dan hot rolled pickled oil (HRPO) yang dikirim ke Pakistan, Vietnam, Turki, Yunani, dan Italia.

Membalikkan kinerja perusahaan dari keterpurukan menuju masa emas memanglah tidak mudah, namun bukan tidak mungkin, seperti yang dilakukan Krakatau Steel. BUMN tersebut nyatanya mampu merangkak menuju puncak dengan upaya kunci restrukturisasi dan transformasi.

Jika terus menggencarkan komitmen restrukturisasi dan transformasi dalam setiap langkah, perseroan tersebut bukan tidak mungkin mencapai target transformasi dalam 5 tahun, yakni pada tahun 2024.