Wajah Baru Stadion Gelora 10 November di Mata Mantan Pemain Persebaya

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Surabaya - Dispora Surabaya melakukan perubahan signifikan terhadap Stadion Gelora 10 November, Surabaya. Setelah direnovasi, banyak perbaikan yang dilakukan seperti rumput, tribune, pagar, hingga fasilitas jacuzzi.

Renovasi tersebut dilakukan sebagai upaya persiapan untuk menyambut Piala Dunia U-20 2021. Seperti diketahui, Surabaya menjadi tuan rumah dengan Stadion Gelora Bung Tomo sebagai venue pertandingan dan Stadion Gelora 10 November sebagai lapangan latihan.

Stadion yang akrab dengan sebutan Tambaksari itu resmi kembali dibuka dengan laga persahabatan Persebaya All Star, Sabtu sore (19/12/2020). Pertandingan ini sekaligus memeringati 100 tahun Bung Tomo yang merupakan pahlawan asal Surabaya.

“Pemilihan rumput ini jenis yang terbaik. Ini diteliti oleh ahli dari bahwa rumput ini sesuai jenisnya. Menurut kami sudah baik, tapi belum tentu menurut pemain. Nanti coba tanya satu per satu saja,” kata Edi Santoso, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dispora Surabaya.

Dalam acara ini, sejumlah pemain legenda Persebaya mendapat kesempatan untuk menjajal rumput Stadion Tambaksari. Nama-nama lawas macam Yusuf Ekodono, Maura Hally, Muharom Rusdiana, hingga Mursyid Effendi hadir.

Tiga sosok yang terhitung masih muda memberikan komentarnya terkait perubahan ini, yakni Fandi Eko Utomo, Wahyu Subo Seto, dan Mat Halil. Mereka mengenang masa-masa mengawali karier di Persebaya dengan menggunakan Stadion Tambaksari yang masih memiliki kekurangan.

Kesan Positif

Stadion Gelora 10 November, Surabaya. (Bola.com/Aditya Wany)
Stadion Gelora 10 November, Surabaya. (Bola.com/Aditya Wany)

Fandi misalnya, yang tercatat menimba karier junior bersama klub internal Persebaya sebelum tahun 2009. Pemain yang kini membela PSIS Semarang itu terkejut melihat kualitas lapangan di Stadion Gelora 10 November yang kian membaik.

“Saya kaget juga sudah seperti ini. Dari kecil memang latihan dan main di sini, itu waktu main di Persebaya U-18 dan U-21. Dulu kalau hujan tanahnya ambles. Sekarang sudah lebih baik,” ungkap putra Yusuf Ekodono itu.

Adik kandung Fandi, Wahyu Subo Seto, cukup merasakan kesan positif dengan melakoni pertandingan di suasana baru Stadion Tambaksari. Pemain Bhayangkara FC sudah bertanding di stadion ini sejak kecil juga.

“Saya sudah main di sini sewaktu masih di Persebaya junior, lalu tim Porprov juga pernah. Setiap hari latihannya di sini. Dulu rumputnya bukan seperti ini, seperti rumput gajah, tanahnya lembek,” ujar pemain berusia 27 tahun itu.

“Saya diminta mencoba lapangan di sini dan dari luar saja sudah terlihat perbedaannya. Ini sudah standar Liga 1 dan mungkin bisa main di sini. Saya sangat senang dan bingga melihat perubahan ini,” imbuhnya.

Komentar Legenda

Mat Halil keluar dari Persebaya karena terbentur regulasi batasan usia pemain pada tim Liga 2 2017. (Bola.com/Fahrizal Arnas)
Mat Halil keluar dari Persebaya karena terbentur regulasi batasan usia pemain pada tim Liga 2 2017. (Bola.com/Fahrizal Arnas)

Secara terpisah, Mat Halil juga memberi tanggapan yang senada dengan Fandi dan Wahyu. Sosok satu ini justru lebih dulu bermain di Stadion Tambaksari. Dia membela Persebaya sejak 1999 hingga dualisme muncul di klub.

Mat Halil adalah bagian Persebaya saat menjuarai Divisi Utama 2004 di bawah arahan pelatih Jacksen F. Tiago.

“Dulu lapangannya agak bergelombang dan kalau hujan saja lari agak berat. Sekarang aliran bola jadi lebih mulus dan enak. Sudah beda, lapangannya jadi lebih bagus,” tutur mantan kapten Persebaya itu.

“Kalau di Indonesia biasanya membangun itu gampang, tapi merawatnya yang susah. Ya, semoga bisa tetap dipertahankan dengan lapangan seperti ini. Ini juga bagus untuk anak-anak Surabaya,” kata pria berusia 41 tahun tersebut.

Video